Showing posts with label Indonesian Beauty. Show all posts

Kolam Renang Alami Di Tengah Hutan, Labuan Bajo - Nusa Tenggara Timur

LABUAN Bajo, Nusa Tenggara Timur tak hanya terkenal dengan komodo saja. Tak jauh dari Labuan Bajo terdapat sebuah air terjun cantik dengan kolam sejuk untuk direnangi.

Sekira 30 kilometer dari Labuan Bajo, terdapat destinasi wisata Air Terjun Cunca Rami. Air Terjun ini berada di tengah kawasan Hutan Mbeliling, masih masuk dalam Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Air Terjun Cunca Rami ini penting bagi Labuan Bajo, karena menjadi sumber air kota tersebut dan sekitarnya. Keindahan air terjun ini tersimpan di dalam hutan, butuh sedikit petualangan untuk mencapainya. 

Berada di ketinggian sekitar 1200 m dpl, kontur jalur menuju air terjun dominan menurun dengan melintasi medan yang bervariasi sejauh kurang lebih 2 kilometer. Sekembalinya dari air terjun, bersiap-siaplah untuk melintasi jalur mendaki, demikian seperti dikutip dari Indonesia.Travel, Minggu (13/10/2013).

Dalam perjalanan menuju air terjun cantik ini, Anda tidak akan bosan dengan suguhan pemandangan alam yang bervariasi. Jalur trekking dimulai dari perkampungan penduduk, melewati hutan pohon kemiri dan ladang penduduk yang mayoritas petani.

Anda akan pula melintasi persawahan yang subur dan melihat kerbau-kerbau pembajak sawah bebas berkeliaran. Saat tiba untuk menyeberangi sungai kecil yang jernih, Anda sudah akan sampai di Cunca Rami. Dari kejauhan, pesona air terjun yang di kiri dan kananya dipenuhi pepohonan yang hijau sudah akan nampak dalam pandangan.

Air terjun ini kian terkenal di kalangan wisatawan karena debit airnya cukup besar. Selain itu, air terjun bertingkat tiga dengan ketinggian mencapai 100 meter itu memiliki kolam alami yang cukup besar menampung aliran air yang jatuh sehingga sangatlah cocok untuk tempat berenang. 

Sebagai kawasan yang belum banyak dikunjungi wisatawan dan belum dikembangkan, air terjun ini masih sangat jernih dan bersih. Latar alam pegunungan dan hutan tropis hijau alami serta udara pegunungan sejuk adalah penambah kecantikan air terjun ini.

Danau Tempe, Sulawesi Selatan - Indonesia

Danau Tempe adalah salah satu obyek wisata di Sulawesi Selatan yang banyak dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Danau yang luasnya 13.000 hektar ini, jika dilihat dari ketinggian tampak bagaikan sebuah baskom raksasa. Danau ini menjadi sumber penghidupan, mencari ikan, tidak hanya bagi masyarakat Kabupaten Wajo, tapi juga sebagian masyarakat Kabupaten Soppeng dan Sidrap. Di sepanjang tepi danau, tampak perkampungan nelayan bernuansa Bugis berjejer menghadap ke arah danau. 

Danau Tempe merupakan penghasil ikan air tawar terbesar di dunia, karena dasar danau ini menyimpan banyak sumber makanan ikan. Selain itu, danau ini juga memiliki spesies ikan tawar yang tidak dapat ditemui di tempat lain. Hal ini diperkirakan karena letak danau ini berada tepat di atas lempengan Benua Australia dan Asia. 

Di tengah-tengah Danau Tempe, tampak ratusan rumah terapung milik nelayan yang berjejer dengan dihiasi bendera yang berwarna-warni. Dari atas rumah terapung itu, wisatawan dapat menyaksikan terbit dan terbenamnya matahari di satu posisi yang sama, serta menyaksikan beragam satwa burung, bunga-bungaan, dan rumput air yang terapung di atas permukaan air. Di malam hari, para pengunjung dapat menyaksikan indahnya rembulan yang menerangi Danau Tempe sambil memancing ikan. 

Di setiap tanggal 23 Agustus diadakan festival laut atau juga sering disebut Maccera Tappareng (mensucikan danau) yang ditandai dengan pemotongan sapi yang dipimpin oleh ketua nelayan setempat. Dalam acara ini, para pengunjung dapat menyaksikan berbagai atraksi wisata yang sangat menarik, seperti lomba perahu tradisional, perahu hias, permainan rakyat (misalnya, lomba layangan), pemilihan ana' dara (gadis) dan kallolona (pemuda) Tanah Wajo, padendang (menabuh lesung), pagelaran musik tradisional dan tari bissu yang dimainkan oleh para waria, dan berbagai pagelaran tradisional lainnya. Pelaksanaan festival ini dimaksudkan agar nuansa kekeluargaan dan persatuan antar sesama nelayan tetap terjaga dengan prinsip "3-S", yaitu Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakalebbi (saling menyegani, saling menasehati, dan saling menghargai). Dengan menyaksikan festival ini, para pengujung dapat mengetahui tentang kebudayaan masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan, khususnya Bugis Wajo. 

Danau Tempe terletak di Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan. 

Danau ini terletak 7 km dari Kota Sengkang, ibukota Kabupaten Wajo. Untuk mencapai tempat ini, dari Kota Sengkang ke Sungai Walennae dapat ditempuh melalui jalur darat dengan menggunakan mobil pete-pete (mikrolet). Dari Sungai Walennae menuju ke Danau Tempe ditempuh selama 30 menit dengan menggunakan perahu motor atau katinting, dengan biaya sekitar Rp. 50.000,- hingga Rp. 75.000,- per-orang. 

Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan indahnya rembulan di malam hari sambil memancing ikan, bisa menginap di rumah terapung yang ada di tengah-tengah danau bersama nelayan setempat. 

sumber : WM 
foto: twip

Cantiknya Desa Wabula, Buton-Sulawesi Tenggara

DI Buton, ada sebuah desa cantik di tepi pantai yang lokasinya cukup jauh dari perkotaan. Namun, keindahannya pasti membuat siapa saja ingin datang dan meninggalkan sejenak suasana kota yang ramai.

Desa tersebut adalah Desa Wabula. Seperti umumnya desa-desa di tepi pantai, desa ini dihuni 3.000 penduduk yang tinggal di rumah-rumah panggung. Hanya jalan utama desa yang diaspal, selebihnya kaki Anda akan menginjak pasir putih yang lembut.

Rumah-rumah panggung berjejer begitu rapi di tepi pantai. Lingkungan sekitar rumah bersih dari sampah, membuatnya sedap dipandang. Pantainya pun begitu bersih tanpa limbah sedikitpun.

Penduduk Desa Wabula bermata pencaharian sebagai nelayan. Sementara, para perempuannya memiliki usaha mandiri menenun kain Buton. Setiap hari, perempuan-perempuan desa menenun selama 5-6 jam, di bagian bawah rumah panggung mereka.

Tradisi menenun kain Buton ini mereka turunkan kepada anak perempuannya. Bahkan, di sekolah diajarkan menenun, dalam mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok).

Pantai di Desa Wabula pun unik. Siang hari, garis air di bibir pantai berjarak sekira 20 meter dari rumah-rumah. Namun menjelang sore, garis pantai akan surut hingga 50 meter dari rumah-rumah tersebut.

Desa Wabula berjarak cukup jauh dari kota terdekat, yaitu Pasarwajo. Anda harus berkendara selama sekira satu jam. Jangan harap bisa menggunakan ponsel di desa ini, karena saat tiba sinyal ponsel akan sulit didapatkan. Namun tak masalah, keindahan Desa Wabula pasti membuat Anda ingin lepas sejenak dari gadget kesayangan.


Sumber & Foto :Mutya/Okezone

4 Pulau Cantik Kekayaan Sumatra Utara

SUMATRA Utara tidak hanya punya Danau Toba atau Brastagi. Provinsi ini juga memiliki banyak pulau cantik nan mempesona.
Simak ulasannya berikut ini, seperti dikutip dari Skyscanner:

Pulau Mursala
Pernah menonton film Mursala yang dibintangi Atiqah Hasiholan dan Rio Dewanto? Pulau Mursala adalah tempat dimana film tersebut mengambil gambar. Pulau Mursala memiliki air terjun yang indah serta terumbu karang di laut yang masih sangat alami. Perjalanan ke Mursala dapat ditempuh dengan dua cara, yakni darat dan udara dari Medan ke Sibolga yang menghabiskan waktu sekira 8-9 jam.

Pulau Samosir
Tahu Danau Toba, pasti tahu Pulau Samosir. Pulau Samosir letaknya masih di dataran tinggi Sumatra Utara, tepatnya di Kabupaten Samosir. Ia merupakan sebuah pulau di tengah-tengah Danau Toba. Objek wisata yang ditawarkan Samosir terletak pada kampung-kampung tua yang masih memiliki bangunan-bangunan adat. Salah satu objek wisata yang terkenal di pulau Samosir adalah Batu Gantung yang konon menurut legenda adalah jelmaan seorang putri.

Pulau Nias
Pulau Nias kembali bangkit dan sedang gencar mengembangkan pariwisatanya setelah gempa yang meluluhlantakkan pulau ini pada tahun 2004 dan 2005 lalu. Salah satu pantainya yang terkenal adalah pantai Lagundri yang menjadi magnetnya para pencinta surf atau olahraga selancar dari berbagai penjuru dunia. 

Pulau Sibaranun
Siapa sangka pulau yang hanya berjarak 45 menit dari pulau Tello ternyata juga menyimpan ombak-ombak yang bisa membuat penasaran para peselancar lokal maupun asing. Tempat ini memiliki fasilitas penginapan yang pas buat mereka yang hobi backpacking dengan bungalow tradisional yang dibangun di pinggir pantai dan menghadap ke laut.

Pantai Tanjung Bira, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan

Nama Tanjung Bira di Bulukumba, Sulawesi Selatan, bisa dibilang semakin santer terdengar. Terutama di kalangan para pelancong yang berburu keindahan alam laut jernih nan memesona. Tanjung Bira layaknya primadona di ujung Sulawesi Selatan.

Bagaimana tidak, saat cuaca cerah, langit biru sangat bersih memantul di hamparan laut yang ada di bawahnya. Pantai Tanjung Bira berpasir putih. Pasirnya sangat lembut dan saat menjejakinya seperti menginjak tepung putih. Sebegitu halusnya bahkan nyaris tak terdengar bunyi langkah kaki yang terseret saat melangkah.

Ombak yang datang menerpa pantai pun tak terlalu kuat. Malah, bisa dibilang laut pantai Tanjung Bira sangat tenang. Sesekali ombak menghempas pantai dengan kekuatan kecil seperti menggelitik kaki.

Tak jauh dari bibir pantai, ada hamparan pulau memanjang. Menurut Kepala Bidang Promosi Kabupaten Bulukumba, Zainuddin, pulau tersebut bernama Liukang Loe. "Liukang Loe masih berpenghuni. Di dekat sana ada tempat yang biasa dijadikan spot diving atau snorkeling," katanya.

Namun untuk mencapai ke Liukang Loe, pengunjung harus menyewa kapal dari pantai. Tenang saja, kapal-kapal yang akan membawa pengunjung ke Liukang Loe telah bersiap di bibir pantai Bira. Tinggal pintar-pintar saja menawar harga.

Kalau pun tak menyeberang ke Liukang Loe dan memilih menikmati Pantai Bira, bisa saja. Banyak kegiatan dan olahraga air yang bisa dilakukan. Terlihat beberapa pengunjung sibuk bermain pasir pantai. Ada yang menulis nama, membuat bangunan dari pasir, maupun mengubur dirinya ke dalam pasir.

Ada juga beberapa anak yang mencari kerang atau keong kecil yang terhempas dari laut dan akhirnya hidup di pantai. Ada banyak kerang dan keong yang telah pergi dari cangkang mereka. Tetapi jika beruntung juga bisa ditemukan yang masih utuh, berjalan-jalan di pasir pantai lengkap dengan rumahnya.

Selain bermain pasir juga bisa melakukan olahraga air, seperti banana boat hingga snorkeling. Para penyedia fasilitas olahraga air ini akan menawarkan langsung kepada pengunjung yang datang.

Akses

Pantai Tanjung Bira terletak di ujung paling selatan Provinsi Sulawesi Selatan. Berada di Kabupaten Bulukumba, perlu waktu sekitar satu jam untuk mencapai tempat ini dari pusat kota Bulukumba dan empat jam dari Makassar dengan menggunakan kendaraan pribadi. 

Pantainya telah dilengkapi fasilitas seperti warung makan yang memenuhi kebutuhan konsumsi pengunjung, warung oleh-oleh dan tak lupa toilet umum.

Sumber : Kompas

4 Dermaga Indah di Raja Ampat


Ada 4 dermaga yang sangat indah di Raja Ampat jika kamu pergi ke dermaga ini maka kamu bisa melihat keindahan dasar lau langsung dari atas dermaga tadi. Siapa yang tidak kenal Raja Ampat derah ini memiliki pesona wisata bawah laut yang sangat luiar biasa pemandangan bawah laut di derah ini bisa dibilang yang no satu di Indonesia. Bagi yang bisa menyelam kamu bisa melihat ke indahan terumbu karang dan pesona keindahan bawah laut Raja Ampat namun jika kamu tidak bisa meyelam kamu jangan khawatir kamu tetap bisa melihat keindahan terumbu karang Raja Ampat yang sangat indah caranya dengan datang ke dermaga berikut ini. Didermaga ini kamu bisa melihat langsung Terumbu karang yang ada di bawah laut dan ikan-ikan laut yang beraneka ragam hanya dari dermaga. Nah mau tahu dermaga apa aja itu simak 4 Dermaga Indah di Raja Ampat berikut ini.


1. Dermaga Waiwo

Dermaga ini terletak di Waiwo, Pulau Waisai. Di dekatnya terdapat salah satu penginapan murah, yaitu Waiwo Dive Resort seharga Rp 500 ribu per malam, per orang. Dari dermaga inilah, wisatawan dapat melihat gerombolan ikan laut yang cantik. Selain memandangi ikan-ikannya, kamu juga bisa memberinya makan. Ambillah makanan seperti biskuit lalu taburkan ke permukaan air. Dalam sekejap, ikan-ikan laut beraneka ragam akan datang dan memakannya. Kamu tidak dikenakan biaya sepeser pun untuk memberi makan ikan-ikan di sini. Dermaga Waiwo juga menjadi ramai didatangi penduduk setempat. Mereka duduk manis di dermaga, dari anak kecil sampai orang tua, untuk memberi makan ikan. Tapi, ada beberapa peraturan di sini.Kamu dilarang membuat ikan ‘stress’ dengan cara menceburkan diri di antara mereka. 

 2. Dermaga Pulau Mansuar

Di Pulau Mansuar, sekitar 45 menit dari Waisai, ada dermaga Raja Ampat Dive Lodge. Ini adalah dermaga bagi para turis yang menginap di resor Raja Ampat Dive Lodge. Dermaganya cukup luas dan panjang. Dari atas dermaga, siap-siap terpukau oleh bebatuan karang dan ikan-ikan. Salah satu ikan yang dapat kamu lihat adalah ikan badut atau Clown Fish. Mereka berenang di antara bebatuan karang. Tak hanya satu, tapi ada banyak! Asyiknya, kamu bisa snorkeling di sekitar dermaga ini. Airnya yang jernih akan membuat kamu lupa daratan. Baik kamu menginap ataupun hanya singgah di resor, bebas snorkeling sepuasnya di sini. Saat lelah, beristirahatlah di pantainya yang berpasir putih nan halus.

3. Dermaga Pulau Arborek

Siap-siap terhipnosis di Dermaga Pulau Arborek. Dari atas dermaganya, terlihat air laut yang biru dan jernih serta terumbu karang yang cantik. Dermaga Pulau Arborek lebih luas dan dapat lebih banyak menampung banyak orang. Uniknya, di dermaga Pulau Arborek terdapat buku tamu. Isinya adalah turis-turis yang berasal dari belahan penjuru dunia. Ada yang dari Italia, Inggris, China, hingga Brazil. Hampir semuanya menulis kata ‘awesome’ pada kolam ‘kesan dan pesan’ di buku itu. Saat berdiri di dermaga Pulau Arborek, dijamin kamu akan tergoda untuk menceburkan diri. Tak perlu menunggu waktu, kamu bebas snorkeling sepuasnya di sana. Lihatlah kayu-kayu di bawah dermaganya. Ada banyak tumbuhan laut yang menempel dan ikan-ikan yang berkeliaran di sekitarnya. Tak jauh dari dermaga, kamu bisa melihat beragam terumbu karang. Bintang-bintang laut di sini juga ukurannya besar-besar. Ingat, lautan di sekitar dermaga Pulau Arborek adalah lautan yang dalam. Jangan sampai terbawa arus ke tengah laut bagi kamu yang tidak mahir berenang . 

4. Dermaga Pulau Sawing Rai

Tak hanya di Waiwo, kamu juga bisa memberi makan ikan di dermaga Pulau Sawing Rai. Memberi makan ikan dan melihat burung cendrawasih adalah satu paket di sini. Harganya sekitar Rp 100 ribu saja per orang. Untuk memberi makan ikan di dermaganya, jari-jari tangan Anda akan diluluri adonan tepung terigu. Setelah itu, celupkanlah jari-jari Anda ke dalam air laut dan lihatlah ikan-ikan yang datang menghampiri kamu. Rasakan pengalaman digigit ikan-ikan di Raja Ampat. Ikan dengan corak beragam warna menghampiri kamu dengan cara bergerombol. Rasanya geli, tapi terkadang juga sakit jika jari kamu digigit oleh ikan besar. Tapi tenang saja, tidak berbahaya. Nah itulah empat dermaga indah yang harus kamu kunjungi jika kamu berwisata di Raja Ampat seprti di kutip dari situs detik.com.

Pusat Kerajinan Rumah Kayu, Kota Tomohon - Sulawesi Utara

Bagi peminat wisata kerajinan di wilayah Sulawesi Utara, jangan sampai melewatkan kesempatan menengok desa Woloan di kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon. Berwisata di desa ini terasa sangat istimewa karena pengunjung tidak akan menemui kerajinan pada umumnya, misalnya hasta karya berupa asesori ruangan rumah (bisa berupa lukisan, patung dari kayu dan batu, dsb.), perhiasan mutiara atau perak, pakaian, maupun kain. Namun, kerajinan yang akan ditemukan di sini berupa kerajinan rumah kayu tradisional Minahasa. Hasil kerajinan mereka merupakan produk unggulan, baik dari segi nilai jual ataupun kualitasnya. Sehubungan dengan nilai dan kualitas kerajinan mereka, para pengrajin di desa ini telah menerima pesanan dari berbagai daerah di nusantara, misalnya berbagai kota di Jawa, Jakarta, Bali, dan mancanegara, seperti Prancis dan Belanda. Tak jarang, ada juga pengusaha pariwisata yang memesan rumah buatan mereka yang nantinya difungsikan sebagai bungalow atau cottage. Pasokan bahan baku utama (kayu) untuk pembuatan rumah tradisional sebagian besar berasal dari Palu, Sulawesi Tengah serta beberapa daerah di Provinsi Sulawesi Tenggara. Kayu yang dipakai untuk pembuatan rumah-rumah tersebut ialah kayu cempaka dan meranti. Warga desa Woloan memilih profesi ini karena keuntungan yang didapat relatif besar. Selain itu, pekerjaan ini merupakan pekerjaan turunan dari pendahulu-pendahulu mereka yang memang telah dikenal handal dalam ranah kerajinan rumah kayu khas Minahasa ini. Desa Woloan sendiri memiliki kisah sejarah yang panjang. Desa yang telah berusia lebih dari 150 tahun ini ada sejak tahun 1845. Konon, desa ini didirikan oleh lima orang pemuka desa. Di antara kelimanya, disebut nama Walian Pontoh sebagai hukum tua atau kepala desa yang pertama kali. Selain selaku pemimpin desa, ia juga ahli pengobatan bagi masyarakat desa. Terkait dengan itu, nama Woloan berasal dari Walian dimana Walian ialah gelar adat yang dilekatkan kepada seseorang di dalam sebuah kelompok masyarakat tertentu di Minahasa lantaran dianggap memiliki keistimewaan tertentu, sehingga ia pantas menjadi orang nomor satu di desanya.
    Rumah kayu hasil kerajinan warga desa Woloan memang unik. Rumah yang terbuat dari kayu ini bisa dibongkar-pasang dan diboyong kemanapun sesuai dengan kehendak pemiliknya. Meski tidak kaya dengan seni ukiran pada komponen kayu penyusun rumah, corak dan bentuk kayu yang telah diproses tampak khas desain arsitektur Minahasa, seperti layaknya desain arsitektur rumah panggung di Sumatera. Mengunjungi desa Woloan akan melahirkan kekaguman tersendiri terhadap kreativitas masyarakatnya. Tidak seperti daerah lain di Sulawesi Utara yang mengandalkan kekayaan alamnya, seperti vanili, pala, cengkeh, dan kopra, desa Woloan justru menyajikan kerajinan rumah kayu. Apabila pengunjung berminat dengan kerajinan mereka, maka tidak perlu repot-repot membawanya pulang saat itu jua. Mereka telah menyediakan jasa pengiriman rumah kayu khas Minahasa ini. Tidak jauh dari lokasi ini, wisatawan dapat memandang keindahan Gunung Lokon, gunung berapi yang menjadi andalan wisata pemerintah kota Tomohon. Gunung ini terletak di utara desa Woloan. Suasana akan terasa lebih dekat dengan alam yang indah dan 'sehat' ketika kita menikmati air dari mata air yang ada di sana. Begitu juga dengan areal perkebunan sayur-mayur di desa Kakaskasen yang berada di kaki Gunung Lokon.
      Desa Woloan terletak di Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Minahasa, Sulawesi Utara.
        Desa Woloan berada di selatan Gunung Lokon atau sekitar 3 km dari arah barat daya Tomohon. Dari pusat kota Tomohon, hanya memerlukan waktu kurang lebih 10 menit dengan mikrolet. Wisatawan akan lebih cepat sampai di lokasi apabila menggunakan taksi atau kendaraan pribadi.

        Sumber: wisata melayu

        Warna Warni Danau Linow, Kota Tomohon - Sulut

        Siapa bilang Sulawesi Utara hanya terkenal dengan pantai dan keindahan bawah lautnya? Provinsi ini juga kaya akan keindahan alam lainnya, salah satunya Danau Linow di Minahasa. Danau ini unik karena terlihat berwarna-warni. Danau seluas 34 hektar ini merupakan lokasi favorit masyarakat setempat. Selain warna-warni danau yang indah, alam sekitarnya pun cantik. Burung-burung belibis (ada yang menyebutnya itik liar) terbang rendah sambil sesekali berenang di permukaan air.

        Lalu apa yang membuat danau ini memiliki beberapa warna yang berbeda? Ternyata danau ini terbagi menjadi dua sisi. Salah satu sisi memiliki kandungan belerang yang tinggi, sementara sisi yang lain tidak. Kandungan belerang ini, ditambah dengan efek cahaya matahari mampu membuat danau seolah-olah memiliki warna yang berbeda. Sejak tahun 2006 pihak swasta membangun taman di pinggir danau — dengan tiket masuk Rp 25.000 per orang. Harga tersebut sudah termasuk kopi dan kue kelapa yang disediakan pengelola. Taman pinggir danau sebagian besar terdiri dari rumput yang terawat rapi, tempat duduk-duduk, serta kafe. Sebuah jalan setapak dibangun di pinggiran bagi pengunjung yang ingin berjalan-jalan, maupun untuk mereka yang ingin berolahraga lari.

        Para pengunjung biasanya duduk-duduk di pinggir danau sambil menikmati pemandangan Linow yang hijau kebiruan. Di sisi lain terlihat warna biru keputihan. Dari sisi lain warna danau terlihat berbeda, tergantung sudut pandang pemirsa. Satwa lain yang juga menarik perhatian adalah serangga yang oleh masyarakat setempat disebut sayok atau komo. Serangga bersayap yang hidup di air ini juga sering ditangkap untuk dikonsumsi. Di sekeliling danau ditumbuhi pohon cemara jarum dan bunga sepatu beraneka warna. Ada juga berbagai bunga lain yang saya tidak tahu namanya. Satu peringatan, di pinggir danau sering ada gundukan lumpur panas, Anda sebaiknya menjauh. Selain itu, terkadang bau belerang juga tajam. Bila ada angin cukup kencang bau ini tercium dari kejauhan. Di sisi kanan danau terdapat sebuah bangunan rusak yang tampaknya dimaksudkan sebagai Pusat Informasi Geotermal dan Geowisata Tomohon. Sebenarnya pembangunan kantor semacam itu adalah inisiatif yang bagus, sayangnya bangunan belum selesai dibangun, dan entah kenapa dibiarkan begitu saja.

        Danau Linow ini berada di Desa Lahendong, Tomohon. Bila ingin berkunjung ke danau ini paling ideal adalah menyewa mobil karena dapat mengunjungi beberapa objek wisata sekaligus. Bila ingin hemat, Anda dapat naik angkutan umum dari Terminal Tomohon, namun harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 700 meter. Dari kota Manado hanya butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai danau. Di wilayah tersebut Anda juga beberapa lokasi menarik yang dapat disinggahi. Salah satunya adalah Woloan, di mana Anda dapat melihat pembuatan rumah panggung khas Minahasa. Selain itu ada pula Desa Pulutan, sentra industri gerabah.

        sumber: Yahoo travel
        foto utama: travelanddiving

        Wisata Sejarah PD II & Konservasi Mangrove di Tarakan

        Tarakan adalah salah satu kota yang terletak di Kalimantan Timur. Kota ini menjadi salah satu lokasi Perang Dunia II. Hingga kini, masih banyak tersebar benda-benda saksi bisu peristiwa tersebut. Kalimantan Timur, selain memiliki keindahan alam dan budaya, juga menyimpan potensi wisata sejarah. Potensi wisata sejarah ini dikarenakan dahulu, daerah ini menjadi salah satu saksi bisu Perang Dunia II. Berbagai peninggalan sejarah masih berdiri kokoh dan terpelihara di tempat ini. “Wisata sejarah juga dapat dilakukan di Tarakan karena di sini dulu menjadi tempat Perang Dunia II,” ujar Ubadin, Marketing and Cooperation Staff Disbudpar Kalimantan Timur, kepada Okezone pada acara “Kemilau Nusantara 2012” di Bandung, Jawa Barat, baru-baru ini. “Seperti dapat kita lihat di sini, ada canon, rumah bundar,” imbuhnya. Jembatan besi, bunker, meriam, monumen Australia, dan perabuan Jepang menjadi beberapa peninggalan sejarah yang dapat ditemukan di kota ini. Terdapat sekira 10 bunker yang ada di Kota Tarakan. Bangunan ini disinyalir dibangun pada kurun 1936 hingga 1939, dan digunakan sebagai tempat pertahanan sekutu Jepang. Meriam yang dapat ditemukan di kota ini merupakan peninggalan dari Raja Tarakan, AP Jamalul Kirana. Selain itu, terdapat pula meriam yang berasal dari peninggalan Perang Dunia II, yang dapat ditemukan di Juwata dan Peningki Lama Karungan. Berkeliling di Kota Tarakan, lengkapilah perjalanan Anda dengan mengunjungi pusat konservasi mangrove di pusat Kota Tarakan. Luas pusat konservasi ini mencapai 8,8 hektare, sekaligus menjadi tempat perkembangbiakan hewan bekantan. “Di pusat Kota Tarakan juga sedang dikembangkan lahan konservasi mangrove. Letaknya di pusat kota,” pungkasnya.

        foto: kupu2senja

        Pantai Natsepa, Kabupaten Maluku Tengah - Maluku

        A. Selayang Pandang
        Pantai landai dan lebar  ini dikenal sejak abad ketujuh belas, digunakan sebagai tempat berlibur para  penjajah Belanda. Saat ini di setiap akhir pekan, Pantai Natsepa selalu ramai  pengunjung, khususnya warga kota Ambon. Tujuan mereka ke Natsepa antara lain untuk berenang,  naik perahu yang bisa disewa per-jam, atau sekadar melepas lelah dengan  menikmati pemandangan alamnya. Ada  juga yang datang untuk sekadar menikmati segarnya kelapa muda, makan pisang goreng,  jagung rebus, wajik atau rujak khas Pantai Natsepa.

        B. Keistimewaan

        Pada hari-hari tertentu pemandangan sekitar pantai yang landai ini sangatlah indah,  antara lain karena sekitar 12 meter dari bibir pantai Natsepa sering melintas kapal-kapal besar pengangkut kayu gelondongan dari Batu Gong, sebuah tempat  pengolahan tripleks di pulau yang tampak di seberang Pantai Natsepa. Para wisatawan juga dapat mandi di pantai yang berombak  rendah ini. Sehabis mandi, pengunjung bisa memborong ikan cakalang dan kepiting  bakau yang banyak dijual nelayan di sekitar lokasi pantai.


        C. Lokasi

        Pantai  Natsepa terletak di Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Pulau  Ambon. Pantai ini terletak sekitar 18 km dari pusat Kota Ambon.

        D. Akses Menuju  Lokasi

        Untuk menuju lokasi pantai dapat ditempuh dengan naik kendaraan umum dengan  harga sekali jalan Rp. 5000. Pantai ini terletak di samping jalan besar, dengan  waktu tempuh dari kota Ambon sekitar 30 menit, dengan jarak tempuh 24 km.

        E. Harga Tiket Masuk  Lokasi

        Tarif  masuk ke lokasi wisata ini, untuk orang dewasa sebesar Rp. 1.000,- kendaraan  roda dua Rp. 1.000,- dan kendaraan roda empat Rp. 2.000.

        F. Akomodasi dan  Fasilitas Lainnya

        Objek Wisata ini  menyediakan berbagai fasilitas yang dapat dinikmati oleh para pengunjung antara  lain beberapa shelter yang dapat digunakan sambil menikmati indahnya pantai dan  pemandangan di Teluk Baguala.
        Terdapat juga  penyewaan pelampung berupa ban dalam roda mobil dengan harga sekitar Rp 5.000  untuk yang berukuran kecil dan untuk yang berukuran besar (update 2012)

        (Hatib Abdul Kadir/wm)
        __________
        Sumber Foto: (Bee La Vista on Trip/16-19/09/2012)