Showing posts with label Cullinerz. Show all posts

Kesegaran Kepala Ikan Ulu Juku, Makassar - Sulawesi Selatan

SEJUMLAH pengunjung memenuhi areal Rumah Makan Ulu Juku di Makassar. Destinasi wisata kuliner ini memiliki menu berbahan baku kepala ikan yang khas dan amat disukai.

Selain ikan bakar, ikan berkuah kunyit atau pallu mara dan ikan goreng, Makassar juga punya panganan lain yang bahan bakunya masih berupa ikan. Namanya ulu juku yang memiliki bahan baku utama berupa kepala ikan. Apa saja variannya?

Banyak orang bilang, tidak lengkap rasanya menginjakkan kaki di Sulawesi Selatan kalau belum mencoba ulu juku yang menjadi salah satu masakan khas daerah tersebut. Jenis masakan ini sudah dikenal masyarakat setempat, khususnya Makassar, sejak berpuluh-puluh tahun silam. Awalnya hanya berupa sup, namun lama-kelamaan variannya semakin bertambah seiring perkembangan dunia kuliner di Tanah Air.

Salah satu rumah makan yang mengembangkan varian ulu juku terletak di Jalan Profesor Abdurrahman Basalamah, Makassar, yang dulu bernama Jalan Racing Centre No 99 A. Restoran berlabel Ulu Juku ini mengembangkan bahan baku kepala ikan menjadi tiga varian, yakni ulu juku pallu mara yang dimasak dengan kuah, ulu juku goreng, dan gulai ulu juku. Tiga varian baru ulu juku tersebut memiliki tampilan serta rasa yang berbeda.

Untuk ulu juku pallu mara, presentasinya sangat khas yaitu berwarna kuning pada kuah serta terdapat irisan daun bawang, cabai merah utuh, dan potongan bawang bombai. Menurut Manajer Rumah Makan Ulu Juku A Wahyudi, menu ulu juku pallu mara di tempatnya menggunakan bumbu-bumbu, seperti bawang merah, bawang putih, serai, daun prey, tomat, serta bahan khusus yang menjadi rahasia kelezatan masakan tersebut.
Ketika dimakan, tekstur daging ulu juku pallu mara sangatlah empuk. Daging yang terdapat di sela-sela kepala ikan kakap merah itu menghadirkan sensasi rasa tersendiri saat dilumat di dalam mulut. Sementara kuahnya terasa agak asam namun segar. Menurut Wahyudi, citarasa tersebut berasal dari ”bumbu rahasia” yang dimiliki rumah makannya, lalu dicampur dengan tomat. Jadi bukan jeruk seperti yang banyak digunakan pada kuah sup.

Ulu juku pallu mara lebih lengkap disajikan dengan nasi putih. Kalau di rumah makan ini, nasi putihnya dikemas dalam bungkus daun pisang. Tak ayal, daun pisang mampu menghadirkan aroma harum pada nasi. Menyantap makanan ini paling pas pada siang hari ketika matahari tengah bersinar terik, lalu padukan dengan minuman dingin. Bisa jus buah atau air putih juga boleh. Desain rumah makan yang dilengkapi meja marmer plus pemandangan pepohonan nan rindang akan melengkapi kesegaran suasana santap siang Anda. 

Ulu juku pallu mara sudah tandas. Kini saatnya mencoba gulai ulu juku. Dari tampilannya, menu satu ini tidak kalah menggoda selera. Berkuah kuning seperti pallu mara, tapi yang ini lebih kental karena menggunakan santan. Bumbunya pun hampir sama dengan pallu mara. Hanya, gulai ulu juku menggunakan bahan tambahan, selain santan tadi, juga jeruk sebagai penambah aroma.

Adapun ulu juku goreng dihidangkan lengkap dengan kremesannya. Bumbunya ada bawang merah, bawang putih, dan gula jawa. Berbeda dengan dua varian sebelumnya yang menggunakan kuah, ulu juku goreng jelas tidak memiliki kuah, melainkan taburan kremes yang teksturnya sangat garing.

Tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk menikmati sajian khas ini. Satu porsi ulu juku dibanderol dengan nilai nominal Rp35.500, sudah termasuk nasi.

”Bahan dasar kepala ikannya kami dapatkan dari Makassar juga. Jadi, memang tidak susah mendapatkannya,” imbuh Wahyudi. Pantas harganya pun ”bersahabat”.

Rumah Makan Ulu Juku sudah beroperasi sejak 2006. Tidak sulit untuk menemukan lokasinya. Selain karena letaknya cukup strategis, pintu masuk utama rumah makan juga sudah menyiratkan kekhasan tempat ini. Replika kepala ikan kakap berukuran besar terpampang di sana. Dari situ pengunjung biasanya akan langsung mengenali rumah makan ini. 

Sumber Berita dan Foto : Okezone dan Nutrisi bagi Bangsa

Udang Selingkuh khas Wamena, Kabupaten Jaya Wijaya

Kembali dari provinsi paling timur di Indonesia, kali ini saya akan membagi cerita tentang salah satu kuliner khas masyarakat di Lembah Baliem, sebuah dataran tinggi dengan pemandangan yang begitu eksotis karena berada pada daerah pegunungan di Kabupaten Jayawijaya, Papua. Ditengah-tengah Lembah Baliem terbentang sebuah kota yang mungkin sudah kita kenal namanya, Wamena. Ya, kota ini merupakan ibukota dari Kabupaten Jayawijaya itu sendiri. Perlu diketahui lagi, letak geografis Wamena berada di ketinggian 1550-1600 meter diatas permukaan laut. Jadi tidak heran jika suhu udara di kota ini sangat dingin apalagi pada saat malam hari. Satu-satunya alat transportasi untuk menuju ke Wamena cuma bisa menggunakan pesawat udara, belum ada jalan darat yang menghubungkan wamena dengan kota-kota lain di Papua. Jadi jangan heran jika sampai disana kita akan menjumpai harga kebutuhan pokok sehari-hari yang relative cukup mahal karena memang semua barang yang diangkut kesana menggunakan pesawat.

Kenapa sampai disebut udang selingkuh. Sebutan udang dengan menggunakan embel-embel selingkuh ini ternyata sudah sangat popular pada kalangan masyarakat luas di Wamena. Alasannya cukup unik, karena udang ini memiliki capit yang besar menyerupai kepiting. Jadi masyarakat disana mengira ini merupakan hasil perselingkuhan antara udang dan kepiting … Padahal, untuk udang air tawar seperti di wamena ini memang memiliki capit yang agak besar, tidak seperti udang air laut pada umumnya yang tidak memiliki capit. Jadi teman-teman tidak perlu heran mendengar istilah udang selingkuh ini, karena udang ini hanyalah udang air tawar biasa yang mendapat julukan udang “selingkuh” dari masyarakat disana.

Udang selingkuh di wamena kebanyakan diperoleh masyarakat sekitar dari sungai baliem, sungai yang mengalir melintasi kota wamena. Disana ada masyarakat yang memang sengaja datang ke sungai untuk berburu udang, jika sudah dapat mereka akan langsung menjualnya ke pasar untuk kemudian akan dibeli oleh pemborong dari pemilik restaurant atau rumah makan. Di wamena juga ada kebiasaan unik yang agak aneh tapi memang begitu kenyataannya, jika kita memiliki udang tapi malas untuk memasaknya, kita dapat datang membawa udang tersebut ke rumah makan untuk minta dimasakan, dalam hal ini kita hanya akan membayar ongkos kerja dari si pelayan dapur plus bumbu-bumbu penyedap lainnya dan juga nasi putih. Namun kebiasaan ini tidak berlaku untuk seluruh rumah makan yang menyajikan udang selingkuh, hanya beberapa rumah makan saja yang memberikan pelayanan seperti ini, salah satunya di rumah makan blambangan di jalan trikora, wamena.

Saking terkenalnya udang selingkuh ini, pengunjung yang datang ke rumah makan biasanya tidak sedikit, jadi jika kita datang disaat kondisi rumah makan sedang ramai, kita harus mengantri terlebih dahulu untuk bisa menyantap kuliner khas kota wamena ini. Untuk penyajian, udang selingkuh ini bisa disajikan dengan cara digoreng ataupun direbus. Bumbu-bumbu penyedap rasa untuk udang yang digoreng dapat kita pilih sendiri mulai dari yang memakai saus mentega, saus tiram, saus padang dan juga saus asam manis plus sepiring kangkung yang ditumis. Sedangkan bagi teman-teman yang suka penyajian dengan cara direbus, bumbu penyedap seperti sambal kecap, buah tomat dan beberapa sayuran macam kol dapat menemani santap udang selingkuh persis kita menyantap lalapan. Udang selingkuh ini juga bisa disajikan dengan cara dibakar. Soal rasa, jangan diragukan lagi kualitas udang yang satu ini. Rasa dagingnya yang gurih dan lezat berpadu dengan bumbu penyedap akan sangat kental terasa dilidah saat kita memakannya. Selain itu, mengkonsumsi udang ini juga sangat sangat baik bagi kesehatan tubuh kita. Itu dikarenakan udang jenis ini memiliki kandungan kalsium dan protein yang sangat banyak. Sehingga udang ini bisa kita kategorikan kedalam sumber protein hewani. Tidak hanya itu, udang ini juga memiliki tingkat kandungan kalori yang sangat rendah, tercatat hanya sekitar kurang lebih 106 kalori/100gr daging udang segar. Hal ini tentunya sangat baik untuk menu makan bagi mereka yang sedang menjalani program diet. 

Kandungan lain yang terdapat dalam udang ini adalah mineral yang sangat baik bagi tubuh manusia. Di setiap 100gr daging udang segar terdapat sekitar 54% mineral selenium, kemudian juga terdapat fosfor dikisaran 20%, besi 13%, magnesium 9%, sodium 6%, dan tidak ketinggalan juga zinc sebesar 7%. Semua takaran ini didasarkan pada kebutuhan gizi harian manusia. (Sumber : Sportindo) Nah, Kebayangkan gimana manfaatnya udang ini bagi kita hehehe… Kembali ke udang selingkuh tadi, untuk mendapatkan seporsi udang ini memang agak mahal, kita harus mengeluarkan duit dikisaran 90rb-250rb rupiah. Harganya ini memang berdasarkan ukuran kecil besarnya udang, semakin besar udang yang kita pesan, ya semakin banyak juga yang harus kita bayar. Tapi tenang , seporsi udang selingkuh ini cukup banyak loh, kita tidak akan mampu menghabiskannya sendiri karena memang seporsinya itu untuk makan 3-4 orang.


sumber:nutrisi untuk bangsa
foto: Tabloid Jubi, google, detik

Itik Rekko Pilihan Kuliner Terbaru di Kolaka, Sulawesi Tenggara

Mungkin masih jarang yang mengetahui kalau saat ini sajian kuliner di Kolaka, Sulawesi Tenggara sudah mulai beraneka ragam. Selain kuliner asli suku Mekongga (suku asli Kolaka) berupa sinonggi, kini banyak pilhan lain tidak kalah menariknya. Contohnya Itik Rekko. Makanan yang diolah dengan berbagai macam rempah-rempah khas Indonesia dan memiliki bahan baku dasar yang tidak biasa ini, seakan membuat makanan berkuah tersebut memiliki kelas yang tinggi.

Itik Rekko merupakan potongan kecil daging itik yang telah dimasak bersama berbagai macam rempah seperti lada hitam dan berbagai bumbu lainnya. Rasanya yang lebih dominan oleh rasa pedas seakan menjadi daya tarik yang kuat bagi para penikmatnya.

Saking populernya, menu Itik Rekko yang hanya ada di satu rumah makan pinggir jalan di kawasan Balandete, Kolaka ini selalu menjadi incaran penikmat kuliner di akhir pekan.

Menurut Ibu Harti, pemilik warung tersebut, bahwa menu yang ada warung kecil miliknya itu sebelumnya tidak populer. Sebab makanan itu hanyalah masakan rumahan yang biasa disajikan bersama keluarganya di kampung halaman. Tapi setelah berjalan beberapa saat, menu itu sudah mulai dicari oleh para pelanggannya. 

“Dagingnya dimasak hingga empuk dan kemudian bumbu yang berupa racikan khusus dimasukkan lalu direbus kembali. Memang pedasnya luar biasa tapi rasanya nikmat. Ini sebenarnya makanan rumahan yang biasa saya masak di kampung. Tapi Alhamdulillah banyak yang senang, apalagi bahan dasarnya kan daging itik. Di Kolaka itu jarang daging itik dijual, yang ada hanya daging ayam,” paparnya.

Terlebih lagi kuah dari Itik Rekko ini sedikit kental dan lebih nikmat lagi ketika diberi tetesan jeruk nipis yang telah disiapkan. Paduan rasa pedas dan kelembutan daging itik serasa menjajal makanan di restoran mahal. Padahal menu spesial yang menjadi incaran penikmat kuliner di Kolaka ini, hanya tersedia di warung kecil ukuran 4 x 5 meter dan terletak di pinggir jalan protokoler Kolaka.

“Memang kalau mau menikmati makanan yang seharga Rp 20.000 per porsi ini biasanya dengan nasi putih dan semangkuk sup. Biasanya pelanggan meminta sup yang panas sehinga betul-betul pas rasanya. Saya biasanya buka di pagi hari sekitar jam 9 dan tutup jelang magrib. Alhamdulillah sudah mulai banyak penikmatnya,” kata ibu dengan dua orang anak ini.

Munculnya menu Itik Rekko di Kolaka sebagai salah satu pilihan kuliner semakin menambah pilihan kuliner di kota penghasil kakao ini. Bahkan saking banyaknya menu yang muncul di setiap rumah makan, DPRD setempat akan mencoba membuat rancangan perda khusus kuliner di Kolaka. 

Sumber : Kompas

Pindang Patin Tempoyak Khas Palembang - Sumatra Selatan

Pindang adalah masakan berkuah yang sangat khas Sumatra Selatan. Tetapi, ternyata, di Sumatra Selatan ada beberapa gagrak masakan pindang, yaitu: pindang palembang, pindang pegagan, pindang meranjat, dan pindang musi-rawas. Masing-masing mempunyai ciri kedaerahan yang lebih khas. Pegagan dan Musi Rawas adalah desa-desa yang letaknya di sebelah Timur Palembang, sedangkan Meranjat berada di sebelah Utara Palembang.

Mereka yang suka masakan berbumbu intens mungkin akan cenderung menyukai pindang meranjat karena "tendangan" rasa calok atau trasi-nya, dan juga tingkat kepedasannya. Pindang pegagan lebih soft rasa trasi-nya. Pindang dari daerah Meranjat juga sering memakai ikan salai (ikan yang diasap) untuk memperkuat citarasanya. Sedangkan masakan pindang dari Palembang dan Musi Rawas tidak memakai trasi. Kedua gagrak yang terakhir ini lebih menonjol rasa asamnya, dan tidak seberapa pedas. Rasa asamnya sering dicapai dengan penggunaan cung kediro (tomat ceri) dan asam jawa. Pindang dari Palembang juga menggunakan lebih banyak daun kemangi untuk membuatnya harum.

Di daerah Sumatra Selatan, hampir semua masakan pindang dibuat dari ikan. Yang paling populer adalah ikan patin dan ikan baung. Di masa lalu, ikan belida pun banyak dimasak pindang, ketika jenis ikan ini masih banyak dijumpai dan harganya belum melenting jauh. Di masa kini, masakan pindang juga seringkali memakai tulang iga sapi - sesuai dengan perkembangan citarasa masyarakat.

Karena itu, bila singgah ke Palembang, jangan puas hanya mencoba satu jenis pindang. Jangan pula lewatkan satu jenis pindang yang sangat khas di Palembang, yaitu pindang tempoyak. Ini berarti ke dalam kuah pindangnya juga ditambahkan tempoyak - yaitu durian yang difermentasikan. Hasilnya adalah kuah pindang yang lebih kental, dengan aroma khas tempoyak, serta citarasa dengan tone seimbang manis-asam-pedas yang sungguh mak nyuss. Sekalipun tempoyak mempunyai citarasa umum yang cukup standar, tetapi kualitasnya sangat beragam. Semakin bagus duriannya, semakin bagus pula tempoyaknya. Semakin bersih proses pembuatannya, semakin mulus pula kualitas tempoyak yang dihasilkan. Karena itu, mutu dan citarasa pindang tempoyak pun sangat bergantung pada mutu tempoyak yang dipakai.

Secara umum, masakan pindang dari Sumatra Selatan ini sangat mirip dengan masakan asam pedas dari Riau. Apalagi, kedua jenis masakan ini juga sama-sama menggunakan ikan laut sebagai bahan utama. Di restoran-restoran, pindang biasanya dimasak a la minute. Artinya, bila dipesan, barulah dimasak. Dengan demikian, tamu selalu dapat masakan yang segar. Lembutnya daging ikan patin dan ikan baung sangat padan dipadu dengan citarasa lembut asam pedas yang menawan.

Di Palembang, ikan patin yang dipergunakan adalah jenis ikan patin sungai yang masih liar. Ukurannya besar-besar - paling kecil berukuran 1 kilogram. Ikan patin sungai ini berlemak, dan tidak bau lumpur. Sungguh sangat beda dari ikan patin budidaya yang biasanya berukuran sekitar 500-700 gram dan kadang-kadang bau lumpur. Ikan patin sungai yang lemak dibakar, juga sangat bagus teksturnya untuk dimasak sebagai pindang. sumber : detikfood

Moke, Minuman Khas Flores

Setiap daerah di Nusantara biasanya memiliki minuman khas, begitu juga dengan Flores, NTT.

 Moke adalah minuman khas orang Flores. Ada Moke Putih dan Moke Hitam. 

 Moke putih adalah nira hasil sadapan dari pohon lontar atau pohon enau. Moke putih akan manis rasanya bila wadah tampungan bersih.

 Biasanya bambu berukuran seruas di cuci bersih dan dikeringkan kemudian digantungkan pada ujung mayang yang telah di jepit atau di pukul-pukul kemudian dipotong ujungnya. 

 Akan kelihatan ada cairan bening menetes dari ujung mayang. Itulah moke putih. Moke putih yang manis dapat dimasak dan dijadikan gula merah. Sedangkan moke putih yang diminum sebagai teman makan adalah moke yang ditampung dengan wadah bambu yang tidak bersih sehingga terjadi peragian.

 Dan rasa minuman agak pahit. Moke putih sejenis ini ada yang langsung diminum, tetapi lebih banyak digunakan untuk dimasak atau disuling dan menghasilkan moke hitam atau tuak.

 Moke hitam sesungguhnya tidak hitam. Warnanya seperti air putih dan agak kuning. Ini adalah hasil sulingan dari moke putih. Moke putih disuling di Kuwu tua (saung penyulingan tuak).

 Moke diolah dari sari enau atau tuak. Biasanya dimasak di rumah-rumah khusus atau pendopo-pendopo di kebun-kebun milik warga secara tradisional dengan pengetahuan turun-temurun 

 Orang Flores selalu menikmati tuak bila ada pesta. Tidak ada pesta tanpa tuak. Tuak sudah menyatu dengan pesta. Makan daging tanpa tuak terasa hambar dan kekurangan. Tuak membuat rasa komplit. 


sumber: Ghiboo

Nasu Kadundung, Khas Suku Pattae di Polewlai Mandar Sulawesi Barat

Bosan menikmati menu masakan di restoran atau di warung langganan Anda yang menunya itu-itu juga? Cobalah Nasu Kadundung, masakan khas Suku Pattae di Polewali Mandar, Sulawesi Barat yang kaya vitamin, protein, karbohidrat dan gizi ini.

 Aroma dan rasanya yang khas dijamin bisa memancing selera makan Anda. Perpaduan bumbu-bumbu alami seperti daun kedondong, pakis, lengkuas, cabe rawit dan bahan utama dari ayam kampong dijamin membuat masakan sehat ini layak menjadi referensi Anda.

 Jika Makassar dan Jakarta terkenal dengan coto makassar dan soto betawinya, di Polewali Mandar populer dengan nasu kadundungnya. Mampir di kota tujuan wisata Polewali Mandar di Sulawesi Barat ini rasanya tak lengkap jika Anda tidak memanjakan lidah dengan masakan yang satu ini.

 Nasu kadundung adalah masakan khas Suku Pattae di Polewali Mandar kini mulai dilirik sejumlah warga sebagai salah satu menu masakan yang memiliki cita rasa yang khas. Selain kaya gizi dan sehat karena tanpa penyedap rasa, nasu kadundung biasanya disajikan dengan ketupat atau nasi.

 Bahan-bahan yang digunakan seperti daun kedondong muda, pakis, merica bawang merah dan putih, lengkuas, gula merah, serei, daun sup dan cabe rawit seluruhnya menggunakan bumbu alami atau tanpa bahan kimia.

 Nasu kadundung dahulu populer disajikan pada saat acara pesta adat, sunatan atau pesta pengantin sebagai salah satu makanan khas. Namun kini mulai dilirik sejumlah warga sebagai salah satu potensi bisnis kuliner yang menjanjikan keuntungan.

 Tak heran jika obyek wisata alam pemancingan di kawasan Rawamangun, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar kini mulai menyajikan nasu kadundung sebagai salah satu sajian khas mereka kepada para pengunjung atau wisatawan yang datang.

 Aroma khas dan rasa asem daun kedondong yang kaya vitamin dan zat gizi membuat nasu kadundung makin dicari-cari para penikmatnya. Hamsir, salah satu penggemar nasu kadundung mengaku menggemari masakan ini lantaran rasa dan aromanya yang khas. Nasu kadundung juga dipercaya sehat dan bebas kolesterol. Pasalnya masakan ini menggunakan ayam kampung dan bebas penyedap rasa.

 "Makanan khas Suku Pattae ini sudah lama dikenal sebagai sajian favorit di pesta-pesta sunatan atau pengantin, dan kini mulai banyak dijual di sejumlah warung yang menyajikan masakan khas," ujar Hamzir. 

Hesti, pemilik warung nasu kadundung di kawasan pemancingan alam Rawamangun semula hanya coba-coba menawarkan menu masakan ini kepada para para pengunjung atau wisatawan yang datang ke lokasi pemancingan tersebut. Ternyata belakangan menu ini cukup diminati pengunjung.

 "Cita rasa dan aromanya yang khas menjadikan makanan ini tak bisa dilupakan bagi siapa pun yang pernah mencoba merasakannya," ujar Hesti.

 Harganya yang relatif murah dan terjangkau membuat masakan yang satu ini layak Anda coba. Untuk satu porsi nasu kadundung lengkap dengan ketupat atau nasinya hanya Rp 20.000. Tak heran jika nasu kadundung kini tak hanya dikenal di Polewali Mandar, tapi juga mulai dikenal di luar daerah seperti Majene, Mamuju, Pinrang bahkan Palu, Sulawesi Tengah.

Sejumlah lembaga atau instansi pemerintah yang pernah menggelar kegiatan di lokasi wisata kolam pemancingan Rawamangun langsung terkesan dan jatuh hati dengan sajian masakan khas masakan Polewali Mandar ini.

sumber: okezone.com

Binte Biluhuta, Khas Gorontalo

A. Selayang Pandang

Provinsi Gorontalo terkenal sebagai penghasil jagung terbesar di Indonesia. Jagung  yang berkualitas tinggi tersebut telah menembus pasar di beberapa negara di dunia, seperti Malaysia, Singapura, dan Gambia (Afrika Barat). Selain sebagai komoditi ekspor, jagung yang juga rasanya manis tersebut menjadi bahan utama pada makanan khas Gorontalo yang lazim dikenal  dengan binte biluhuta. Selain jagung, makanan ini juga menggunakan bahan  utama lainnya, seperti ikan tuna, cakalang, tengiri, dan udang. Makanan khas  Gorontalo ini termasuk jenis masakan sup yang rasanya segar, gurih, sehingga sangat  cocok dinikmati pada saat cuaca dingin, terutama bagi mereka yang sedang flu.
Binte biluhuta termasuk  makanan favorit masyarakat Gorontalo. Pada tahun 2005, sebanyak 10 ribu orang makan sup jagung ini secara bersamaan di sepanjang jalan Ahmad Yani hingga  jalan Panjaitan Kota Gorontalo, sehinga kegiatan makan bersama ini tercatat  dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) ke-1.761.

B. Keistimewaan

Kekhasan makanan binte biluhuta terletak pada keragaman rasanya, ada rasa manis, kecut, pahit, dan pedas. Cara penyajiaannya pun berbeda dengan sup-sup lainnya. Pada saat masakan ini disajikan, bumbu-bumbu yang membuat  rasanya berbeda, seperti cabe rawit penyebab rasa pedas, daun pepaya penyebab rasa pahit, dan jeruk nipis penyebab rasa kecut, diletakkan pada wadah yang terpisah. Tergantung selera masing-masing pelanggan mau memilih rasa apa. Jika anda penggemar rasa pedas, boleh menambahkan cabe rawit yang sudah ditumbuk kasar.  Jika anda suka rasa pahit, iris daun pepaya tipis-tipis lalu campurkan ke dalam sup. Begitu pula jika anda ingin rasa kecut, tambahkan perasan jeruk nipis, sehingga anda akan merasakan kuahnya yang kecut segar berpadu dengan krius-krius manis jagung dan harum kemangi.
Meskipun menggunakan bahan utama ikan, makanan khas Gorotalo ini tidak berbau atau terasa amis, karena bau amis tersebut tertutupi oleh rasa kecut,  pahit atau pedas. Santaplah binte bilutuhe ini selagi masih panas.

C. Lokasi

Ketika memasuki Kota Gorontalo, wisatawan tidak akan kesulitan untuk  mencicipi masakan binte biluhuta. Di kota ini, wisatawan dapat menikmati menu sup jagung ini mulai dari warung makan di pinggir jalan hingga di restoran.

D. Harga

Harga binte biluhuta di Kota Gorontalo berkisar antara Rp. 5.000,00 hingga Rp.10.000,00 per porsi.

E. Akses

Untuk menemukan masakan sup ini di Kota Gorontalo tidaklah sulit. Anda  tinggal memilih jenis angkutan yang tersedia di kota ini, seperti bentor (becak  motor), bendi, ojek, mobil mikrolet, dan bus.

F. Akomodasi dan Fasilitas

Jika anda kemalaman dan ingin menginap di Kota Gorotalo, di sana banyak tersedia  penginapan dan hotel.
(Samsuni/wm/29/03-08)
__________
Sumber Foto: kulinerkita

Kaledo Loli, Kota Palu-Sulawesi Tengah

A. Selayan Pandang

Jangan mengaku pernah menginjakkan kaki di Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu, jika Anda belum mencicipi kaledo. Masakan khas Sulawesi Tengah ini termasuk jenis masakan berkuah bening agak kekuning-kuningan dengan rasa yang sangat khas, yakni asem gurih dan pedas. Pada awalnya, masakan ini hanya berbahan baku tulang kaki sapi dengan sedikit dagingnya. Namun, karena penjual kaledo semakin banyak, sehingga tulang kaki sapi semakin sulit didapatkan. Untuk menggantikan tulang kaki tersebut, maka tulang belakang sapi pun disertakan sebagai tambahan bahan utama.  
Tidak ada catatan resmi mengenai asal-usul makanan ini. Menurut cerita, konon di wilayah Sulawesi Tengah, ada seorang dermawan yang memotong sapi dan membagi-membagikannya kepada penduduk sekitar. Orang Jawa yang pertama datang mendapat daging sapi yang empuk dan kemudian dibuat bakso. Orang Makassar yang datang berikutnya mendapat bagian jeroan (isi perut), kemudian dimasak coto Makassar. Sementara orang Kaili (suku asli Donggala) yang datang belakangan hanya memperoleh tulang-tulang kaki. Oleh karena tidak ingin mengecewakan keluarganya yang menunggu di rumah, maka tulang-tulang dengan sedikit daging yang masih menempel pun dibawanya pulang ke rumah sebagai obat kecewa. Tulang-tulang tersebut kemudian mereka masak dan jadilah kaledo.   
Kaledo banyak dihidangkan oleh masyarakat Sulawesi Tengah pada saat hari lebaran (Idul Fitri maupun Idul Adha) yang disajikan dengan burasa (beras diberi air santan dan dibungkus daun pisang, lalu direbus). Selain itu, makanan khas ini juga sangat cocok disantap bersama nasih putih, singkong atau jagung rebus. Bagi yang mengidap tekanan darah tinggi dan asam urat, sebaiknya lebih berhati-hati. Jangan sampai makan kaledo melebihi porsi yang semestinya. 

B. Keistimewaan

Kekhasan kaledo ini terletak pada penggunaan bumbu asam Jawa. Asam Jawa yang digunakan adalah asam yang betul-betul masih muda. Untuk memperoleh konsentrat asam, kulit asam muda digerus bersama dagingnya. Jika menggunakan asam yang sudah tua, kuah kaledo tersebut akan berwarna kuning dan rasanya cenderung lebih manis.
Selain itu, masakan kaledo ini menjadi khas, karena bumbu pelengkapnya, seperti: bawang goreng khas Palu (renyah, tidak mudah lembek, dan tahan lama), sambal, dan jeruk nipis. Bagi mereka yang suka pedas, dapat menambahkan sambal yang sudah ditumbuk kasar. Sedangkan bagi yang suka kecut, dapat menambahkan perasan jeruk nipis.
Sebenarnya, yang menarik dari makanan ini, yaitu pada cara makannya. Daging yang menempel di tulang dan sumsum yang terdapat di dalam rongga tulang tersebut sangat lezat untuk dinikmati. Oleh karena itu, Anda jangan terkejut dan heran ketika melihat cara penyajian masakan yang satu ini. Biasanya disediakan garpu, pisau, sumpit ataupun pipet, yang berfungsi untuk mengeluarkan sumsum dari rongga-rongga tulang sapi tersebut.

C. Lokasi

Makanan khas Palu ini merupakan menu utama warung-warung makan di Sulawesi Tengah. Ada beberapa warung makan yang khusus menyajikan makanan ini, seperti warung makan yang berlokasi di ruas Jalan Diponegoro, Kota Palu; di depan pintu masuk Wisata Pantai Tumbelaka (3 km dari Kota Palu); dan di depan Masjid Baabus Salaam, Loliege, Jl. Raya Palu - Donggala (3 km dari Kota Palu). Selain di Kota Palu dan Donggala, makanan ini juga dapat dinikmati di warung-warung makan di Kabupaten Poso. Untuk menjangaku warung-warung tersebut, para wisatawan dapat menumpang angkutan kota berupa bus kota, taksi dan ojek.

D. Harga

Harga kaledo berkisar antara Rp. 30.000,00 - Rp. 35.000,00 perporsi. (2011).
(Samsuni/wm/34/03-08)
foto: detik foto

Warung Kopi Ulee Kareng,Banda Aceh

Di Nanggroe Aceh Darussalam, telah menjadi tradisi bagi kaum prianya untuk menikmati kopi di warung-warung. Jumlah warung kopi di Aceh, khususnya di Banda Aceh, sangat banyak, mungkin terbanyak di Indonesia. Warung kopi di Aceh tidak sama dengan warung kopi yang ada di Pulau Jawa, karena warung kopi di Aceh bentuknya seperti restoran. Dari sekian banyak warung kopi di Kota Banda Aceh, terdapat satu warung kopi yang sangat populer dan selalu dipenuhi pengunjung dari pagi hingga malam hari, yaitu warung kopi Ulee Kareng "Jasa Ayah". Warung kopi ini dimiliki oleh seorang pria Aceh yang bernama Nawawi. Sebelumnya warung kopi ini telah ada sejak tahun 1958, namun bukan dengan nama "Jasa Ayah", yang dikelola oleh orang tua Nawawi, yang bernama Haji Muhammad.
Bagi kaum lelaki Aceh, warung kopi tidak hanya sebagai tempat untuk menikmati secangkir kopi dan beberapa makanan khas Aceh lainnya, namun ia berkembang dengan fungsinya yang lebih luas, seperti fungsi sosial, yaitu sebagai tempat memperkuat ikatan solidaritas antar kelompok atau antar sahabat; fungsi politik, dijadikan tempat diskusi isu-isu politik dan pemerintahan baik tingkat lokal, nasional maupun internasional; dan fungsi ekonomi, yaitu sebagai tempat pertemuan dan lobi-lobi bisnis.
Warung kopi "Jasa Ayah" tidak hanya populer di Aceh, namun juga di Indonesia. Kepopulerannya semakin bertambah pasca tsunami di Aceh, karena banyak pekerja nasional dan internasional yang berdatangan ke aceh. Tidak hanya media massa nasional yang memuat berita tentang kekhasan aroma dan rasa kopi "Jasa Ayah", namun juga media internasional.
Keistimewaan aroma dan rasanya berasal dari pengolahan kopi arabika yang jitu. Kopi itu didatangkan dari Lamno, Kabupaten Aceh Jaya. Diolah dengan cara-cara khusus dan penuh kesabaran, dan keuletan, mulai dari penyangraian (penggonsengan) hingga penggilingan. Ketika kopi itu disangrai, apinya tidak boleh terlalu besar, karena dapat menyebabkan kegosongan. Setelah itu baru kopi digiling. Pada saat kopi itu akan disajikan, ia harus diseduh dengan air mendidih agar mengeluarkan aroma yang harum hingga beberapa meter dan barulah setelah itu disaring dan siap disajikan. Umumnya pengunjung yang menikmati kopi arabika "Jasa Ayah", menikmatinya sambil menyantap hidangan khas Aceh lainnya, seperti kue sarikaya, kue timpan, kue bolu, martabak telor, nasi gurih (nasi uduk) ataupun mie Aceh.
Meskipun usahanya terbilang sukses dengan keuntungan bersih satu harinya hingga mencapai lebih kurang Rp. 2.000.000,00, (dalam satu bulan menghabiskan 1,5 ton kopi) Nawawi tetap memikirkan kehidupan akhirat. Semenjak peristiwa tsunami melanda Aceh, ia mulai menerapkan peraturan baru bagi pengunjung di warungnya, bagi yang beragama Islam diwajibkan meninggal warung sebelum tiba waktu adzan dzuhur, ashar, dan maghrib. Dan bagi yang tidak beragama Islam, tidak masalah untuk tetap berada di warung. Baginya kehidupan duniawi dan akhirat mesti berjalan
Warung Kopi "Jasa Ayah" berada di Jalan T. Iskandar no.13-14a, Kecamatan Ulee Kareng, Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Akses menuju ke lokasi ini sangat mudah, karena Kecamatan Ulee Kareng berada di Kota Banda Aceh. Banyak angkutan umum yang lalu lalang melewati lokasi ini, seperti: taxi, becak mesin dan labi-labi. Labi-labi yang melewati rute Warung Kopi Ulee Kareng adalah jurusan Ulee Kareng - Pasar Aceh. Segelas kopi dihargai Rp. 1.500,00, (Maret 2008), namun apabila pengunjung ingin menambahi susu kental, harganya menjadi Rp. 3.000,00 (Maret 2008). Di warung ini juga dijual bubuk kopi dalam bentuk kemasan beberapa ukuran, seperti 250 gram dengan harga Rp. 10.000,00 (Maret 2008). Kalau yang kemasan 1 kg dijual sekitar Rp. 60.000,00 (Maret 2008). Oleh karena lokasinya di tengah Kota Banda Aceh, dengan demikian tidak sulit mencari penginapan kelas melati ataupun hotel berbintang.

sumber: wisata melayu
foto: caninews