Showing posts with label Native Indonesia. Show all posts

Warga Polahi, Terpinggirkan di Hutan Boliyohuto

Kata "Polahi" bagi sebagian warga yang hidup di Gorontalo merupakan sebuah cerita yang diliputi dengan aroma mistis. Walaupun hampir sebagian besar orang Gorontalo mengenal kata itu, tetapi hanya sebagian kecil yang benar-benar tahu dengan keberadaan Polahi.

Polahi adalah sebutan untuk sekelompok warga yang hingga kini masih hidup terisolasi di pedalaman hutan Gunung Boliyohuto yang meliputi daerah Paguyaman, Suwawa, dan Sumalata di Provinsi Gorontalo. 

Berbeda dengan suku-suku pedalaman lainnya di Indonesia, literer suku Polahi sangat minim. Ini karena sikap tertutup yang mereka tunjukkan sejak dulu. Konon, Polahi takut jika bertemu dengan orang lain. 

Namun, beberapa tahun belakangan ada sebagian kelompok Polahi yang sudah bisa hidup bersosial dengan warga lainnya, walaupun masih mempertahankan kebiasaan primitif mereka.

Salah satu kelompok yang bisa ditemui adalah keluarga Polahi yang hidup bermukim di pedalaman Hutan Humohulo pengunungan Boliyohuto, Paguyaman. Akses menuju ke permukiman tersebut tidaklah mudah. Butuh waktu jalan kaki selama sekitar delapan jam dari Dusun Pilomohuta, Desa Bina Jaya, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, untuk mencapai rumah keluarga Polahi di sana.

"Inilah salah satu pintu masuk yang termudah kalau ingin mengunjungi mereka," ujar Kepala Dusun Pilomohuta, Udin Mole, ketika menemani Kompas.com menyusuri jalan mendaki dan melewati tujuh sungai tersebut.

Di Desa Bina Jaya sebenarnya ada 11 keluarga Polahi yang terdata. Namun, sejak kematian Kepala Suku mereka, Baba Manio, sebulan yang lalu, keluarga ini lalu berpencar. Sebab bagi suku Polahi, jika ada satu anggota keluarga yang meninggal, maka mereka semua harus meninggalkan rumah dan permukimannya, lalu mencari permukiman baru.

"Dulunya Polahi hidup sangat nomaden. Mencari lahan untuk ditanami, dan setelah itu berpindah ke lahan yang baru. Nanti setelah waktu panen, baru mereka akan balik lagi. Nyaris mereka tidak punya tempat tinggal tetap," kata Rosyid.

Namun, Polahi yang ditemui di pedalaman Hutan Humoholo sudah punya rumah tetap, walau masih terlihat sangat sederhana. Hanya terbuat dari papan sisa hasil para perambah hutan dengan atap dari daun kelapa dan daun rumbia.

Kini di hutan Humohulo ada sekeluarga Polahi yang merupakan keturunan Baba Manio yang kawin dengan istrinya Mama Tanio, yang tidak lain adalah saudaranya sendiri. Mereka hidup di dua rumah yang berbeda lokasi dengan jarak yang lumayan jauh.

Rumah pertama ditinggali Mama Tanio dengan anak mereka Babuta yang otomatis menjadi pimpinan sekarang. Babuta memperistri Lanio yang tidak lain anak dari ayahnya dengan seorang istri yang bernama Hasimah. Hasimah dengan keluarga lainnya tinggal di lokasi yang terpisah di hutan Tumba.

Di rumah utama ini, hidup anak-anak Mama Tanio serta anak-anak dari Babuta. Sementara rumah kedua ditinggali adik Mama Tanio yang hidup bersama anak lainnya dari Baba Manio yang bernama Laiya yang punya dua istri kakak beradik.

Kawin-mawin sesama saudara bagi Polahi adalah hal wajar. Ayah kawin dengan anak perempuannya, ibu kawin dengan anak laki-lakinya, serta kakak kawin dengan adiknya. "Kalau di kampung banyak orang, tetapi di sini hanya ada kita, jadi kawin saja," ujar Mama Tanio dalam bahasa Gorontalo berdialek khas dengan polosnya.

Keterisolasian mereka membuat praktik inses tersebut dianggap wajar. Polahi tidak mengenal agama. Mereka hanya menganut paham agama tradisional, yang percaya kepada alam. Polahi adalah warga yang termarginalkan dengan kebodohan mereka. Walau kini mereka sudah terbiasa pakai baju, tetapi pendidikan nyaris tidak pernah mereka rasakan.

"Dulu mereka tidak mengenal angka sama sekali. Tetapi sekarang karena sudah sering berinteraksi dengan warga lain, mereka telah mengenal uang," ujar Udin.

Pemerintah Gorontalo bukannya tidak pernah mencoba membawa mereka untuk hidup bersama masyarakat lainnya. Sebuah lokasi dekat dengan permukiman warga di Dusun Pilomohuta pernah dibangun. "Ada sembilan Rumah Layak Huni (Mahayani) yang dibangun oleh pemerintah. Tapi mereka tinggalkan dan masuk hutan lagi," jelas Udin.

Mama Tanio menuturkan, mereka tidak bisa hidup di daerah panas. Tempat mereka adalah hutan. Alamlah yang memberi mereka makan. "Kalau mau beri kami rumah, bangun di hutan sini, kami tidak bisa tidur kalau di kampung," Mama Tanio memberi alasan.

Pendekatan yang tidak memperhatikan karakter kehidupan Polahi membuat sembilan rumah di lokasi Mahayani tersebut kosong, serta membuat Polahi terus termarginalkan. "Hanya kepala dusun yang pernah sampai di gunung ini, pemerintah lainnya tidak pernah datang. Kepala dusun yang selalu bawa bantuan baju dan makanan buat kami," aku Babuta.

Babuta menjelaskan, jika pemerintah ingin merubah kehidupan mereka, seharusnya dengan tetap membiarkan mereka bersama dengan alam dan hutan yang sudah menjadi bagian dari kehidupan Polahi. "Leluhur kami mengingatkan jangan pernah tinggalkan hutan," tambah Babuta. 

Kondisi Polahi yang ditemui di Hutan Humohulo paling tidak sedikit menepis cerita mistis yang melingkupi suku Polahi. Beberapa kebiasaan primitif memang masih menjadi bagian dari kehidupan mereka. Namun, jika pendekatan yang tepat dilakukan, niscaya Polahi tidak lagi akan menjadi warga yang termarginalkan.

sumber: Kompas

Bakar Perahu dan Manusia Ikan di Torosiaje Laut-Provinsi Gorontalo


Desa Suku Bajo Torosiaje Laut terletak di kecamatan Popayato, kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Desa itu didirikan tahun 1901. Pendirinya bernama Pata Sompa. Ia seorang haji. Dulu, orang-orang yang berlalu lalang naik perahu bilang, bahwa mereka ingin mampir ke toro siaje atau tanjung si Haji. Maka, jadilah nama desa Suku Bajo itu Torosiaje. 

Penduduk Torosiaje Laut berjumlah sekitar 1200 orang. Di sana, ada sekitar 245 rumah. Desa itu panjangnya 2 kilometer dan lebarnya 1 kilometer. Seluruh desa itu terangkai menjadi satu dengan jembatan-jembatan yang saling menyambung. Torosiaje Laut seperti desa-desa di darat. Lihatlah bentuk rumah-rumahnya, seperti bentuk rumah di darat. Di sana juga sudah ada listrik, sekolah, toko-toko kecil, penginapan dengan toilet duduk, dan bahkan panel surya. Penduduknya pun sudah biasa memakai telepon genggam. 

Meski keadaannya mirip desa di darat, tapi suasananya berbeda. Saat memperhatikan masyarakatnya beraktifitas, memandangi lautan yang terbentang di depan rumah-rumahnya, menapaki jembatan-jembatan kayunya… Duh, uniknya! 


Tradisi bakar perahu agar perahu lebih awet.


Torosiaje Laut semakin unik dengan tradisi-tradisinya. Salah satunya, tradisi bendera putih. Bendera itu ditancapkan di bagian desa yang menghadap ke laut lepas. Fungsinya untuk tolak bala. Artinya, untuk melindungi desa, misalnya dari penyakit. Setiap 10 tahun sekali, diadakan upacara mengganti bendera putih itu. 


Ada pula tradisi bakar perahu. Tradisi bakar perahu dilakukan agar perahu terawat dan awet bertahun-tahun. Caranya, perahu dibakar di atas api dan daun kelapa kering. Lalu, perahu digosok-gosok dengan daun-daun kelapa kering. Bakar perahu dilakukan seminggu atau 10 hari sekali.
 

Pssstt… Torosiaje Laut juga punya kisah unik tentang Sengkang, si manusia ikan! Masyarakat di sana bilang, sewaktu kecil, Sengkang seperti anak biasa. Namun, suatu hari, tiba-tiba, ia masuk ke dalam laut dan tidak ingin ke darat lagi. 


Jembatan kayu yang menyatukan seluruh Desa Torosiaje Laut.
Sengkang akhirnya hidup di dalam laut. Ia makan, tidur, dan bermain di laut. Karena selalu berada di dalam laut, badannya sampai berlumut. Sengkang meninggal dunia pada umur 38 tahun. 

Masyarakat Torosiaje Laut mengaku mereka mengenalnya. Ada yang suka mengajak Sengkang bermain dan bercanda. Ada juga yang memotong rambut Sengkang jika rambutnya sudah panjang. Sayangnya, foto-foto mereka bersama Sengkang selalu tidak bisa dilihat jelas. Akhirnya, Sengkang sering dianggap kisah legenda dari Torosiaje Laut. (lita) 

Foto : dokumentasi Majalah Bobo
Sumber: Kidnesia.com