Kesegaran Kepala Ikan Ulu Juku, Makassar - Sulawesi Selatan

SEJUMLAH pengunjung memenuhi areal Rumah Makan Ulu Juku di Makassar. Destinasi wisata kuliner ini memiliki menu berbahan baku kepala ikan yang khas dan amat disukai.

Selain ikan bakar, ikan berkuah kunyit atau pallu mara dan ikan goreng, Makassar juga punya panganan lain yang bahan bakunya masih berupa ikan. Namanya ulu juku yang memiliki bahan baku utama berupa kepala ikan. Apa saja variannya?

Banyak orang bilang, tidak lengkap rasanya menginjakkan kaki di Sulawesi Selatan kalau belum mencoba ulu juku yang menjadi salah satu masakan khas daerah tersebut. Jenis masakan ini sudah dikenal masyarakat setempat, khususnya Makassar, sejak berpuluh-puluh tahun silam. Awalnya hanya berupa sup, namun lama-kelamaan variannya semakin bertambah seiring perkembangan dunia kuliner di Tanah Air.

Salah satu rumah makan yang mengembangkan varian ulu juku terletak di Jalan Profesor Abdurrahman Basalamah, Makassar, yang dulu bernama Jalan Racing Centre No 99 A. Restoran berlabel Ulu Juku ini mengembangkan bahan baku kepala ikan menjadi tiga varian, yakni ulu juku pallu mara yang dimasak dengan kuah, ulu juku goreng, dan gulai ulu juku. Tiga varian baru ulu juku tersebut memiliki tampilan serta rasa yang berbeda.

Untuk ulu juku pallu mara, presentasinya sangat khas yaitu berwarna kuning pada kuah serta terdapat irisan daun bawang, cabai merah utuh, dan potongan bawang bombai. Menurut Manajer Rumah Makan Ulu Juku A Wahyudi, menu ulu juku pallu mara di tempatnya menggunakan bumbu-bumbu, seperti bawang merah, bawang putih, serai, daun prey, tomat, serta bahan khusus yang menjadi rahasia kelezatan masakan tersebut.
Ketika dimakan, tekstur daging ulu juku pallu mara sangatlah empuk. Daging yang terdapat di sela-sela kepala ikan kakap merah itu menghadirkan sensasi rasa tersendiri saat dilumat di dalam mulut. Sementara kuahnya terasa agak asam namun segar. Menurut Wahyudi, citarasa tersebut berasal dari ”bumbu rahasia” yang dimiliki rumah makannya, lalu dicampur dengan tomat. Jadi bukan jeruk seperti yang banyak digunakan pada kuah sup.

Ulu juku pallu mara lebih lengkap disajikan dengan nasi putih. Kalau di rumah makan ini, nasi putihnya dikemas dalam bungkus daun pisang. Tak ayal, daun pisang mampu menghadirkan aroma harum pada nasi. Menyantap makanan ini paling pas pada siang hari ketika matahari tengah bersinar terik, lalu padukan dengan minuman dingin. Bisa jus buah atau air putih juga boleh. Desain rumah makan yang dilengkapi meja marmer plus pemandangan pepohonan nan rindang akan melengkapi kesegaran suasana santap siang Anda. 

Ulu juku pallu mara sudah tandas. Kini saatnya mencoba gulai ulu juku. Dari tampilannya, menu satu ini tidak kalah menggoda selera. Berkuah kuning seperti pallu mara, tapi yang ini lebih kental karena menggunakan santan. Bumbunya pun hampir sama dengan pallu mara. Hanya, gulai ulu juku menggunakan bahan tambahan, selain santan tadi, juga jeruk sebagai penambah aroma.

Adapun ulu juku goreng dihidangkan lengkap dengan kremesannya. Bumbunya ada bawang merah, bawang putih, dan gula jawa. Berbeda dengan dua varian sebelumnya yang menggunakan kuah, ulu juku goreng jelas tidak memiliki kuah, melainkan taburan kremes yang teksturnya sangat garing.

Tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk menikmati sajian khas ini. Satu porsi ulu juku dibanderol dengan nilai nominal Rp35.500, sudah termasuk nasi.

”Bahan dasar kepala ikannya kami dapatkan dari Makassar juga. Jadi, memang tidak susah mendapatkannya,” imbuh Wahyudi. Pantas harganya pun ”bersahabat”.

Rumah Makan Ulu Juku sudah beroperasi sejak 2006. Tidak sulit untuk menemukan lokasinya. Selain karena letaknya cukup strategis, pintu masuk utama rumah makan juga sudah menyiratkan kekhasan tempat ini. Replika kepala ikan kakap berukuran besar terpampang di sana. Dari situ pengunjung biasanya akan langsung mengenali rumah makan ini. 

Sumber Berita dan Foto : Okezone dan Nutrisi bagi Bangsa

Kolam Renang Alami Di Tengah Hutan, Labuan Bajo - Nusa Tenggara Timur

LABUAN Bajo, Nusa Tenggara Timur tak hanya terkenal dengan komodo saja. Tak jauh dari Labuan Bajo terdapat sebuah air terjun cantik dengan kolam sejuk untuk direnangi.

Sekira 30 kilometer dari Labuan Bajo, terdapat destinasi wisata Air Terjun Cunca Rami. Air Terjun ini berada di tengah kawasan Hutan Mbeliling, masih masuk dalam Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Air Terjun Cunca Rami ini penting bagi Labuan Bajo, karena menjadi sumber air kota tersebut dan sekitarnya. Keindahan air terjun ini tersimpan di dalam hutan, butuh sedikit petualangan untuk mencapainya. 

Berada di ketinggian sekitar 1200 m dpl, kontur jalur menuju air terjun dominan menurun dengan melintasi medan yang bervariasi sejauh kurang lebih 2 kilometer. Sekembalinya dari air terjun, bersiap-siaplah untuk melintasi jalur mendaki, demikian seperti dikutip dari Indonesia.Travel, Minggu (13/10/2013).

Dalam perjalanan menuju air terjun cantik ini, Anda tidak akan bosan dengan suguhan pemandangan alam yang bervariasi. Jalur trekking dimulai dari perkampungan penduduk, melewati hutan pohon kemiri dan ladang penduduk yang mayoritas petani.

Anda akan pula melintasi persawahan yang subur dan melihat kerbau-kerbau pembajak sawah bebas berkeliaran. Saat tiba untuk menyeberangi sungai kecil yang jernih, Anda sudah akan sampai di Cunca Rami. Dari kejauhan, pesona air terjun yang di kiri dan kananya dipenuhi pepohonan yang hijau sudah akan nampak dalam pandangan.

Air terjun ini kian terkenal di kalangan wisatawan karena debit airnya cukup besar. Selain itu, air terjun bertingkat tiga dengan ketinggian mencapai 100 meter itu memiliki kolam alami yang cukup besar menampung aliran air yang jatuh sehingga sangatlah cocok untuk tempat berenang. 

Sebagai kawasan yang belum banyak dikunjungi wisatawan dan belum dikembangkan, air terjun ini masih sangat jernih dan bersih. Latar alam pegunungan dan hutan tropis hijau alami serta udara pegunungan sejuk adalah penambah kecantikan air terjun ini.

Warga Polahi, Terpinggirkan di Hutan Boliyohuto

Kata "Polahi" bagi sebagian warga yang hidup di Gorontalo merupakan sebuah cerita yang diliputi dengan aroma mistis. Walaupun hampir sebagian besar orang Gorontalo mengenal kata itu, tetapi hanya sebagian kecil yang benar-benar tahu dengan keberadaan Polahi.

Polahi adalah sebutan untuk sekelompok warga yang hingga kini masih hidup terisolasi di pedalaman hutan Gunung Boliyohuto yang meliputi daerah Paguyaman, Suwawa, dan Sumalata di Provinsi Gorontalo. 

Berbeda dengan suku-suku pedalaman lainnya di Indonesia, literer suku Polahi sangat minim. Ini karena sikap tertutup yang mereka tunjukkan sejak dulu. Konon, Polahi takut jika bertemu dengan orang lain. 

Namun, beberapa tahun belakangan ada sebagian kelompok Polahi yang sudah bisa hidup bersosial dengan warga lainnya, walaupun masih mempertahankan kebiasaan primitif mereka.

Salah satu kelompok yang bisa ditemui adalah keluarga Polahi yang hidup bermukim di pedalaman Hutan Humohulo pengunungan Boliyohuto, Paguyaman. Akses menuju ke permukiman tersebut tidaklah mudah. Butuh waktu jalan kaki selama sekitar delapan jam dari Dusun Pilomohuta, Desa Bina Jaya, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, untuk mencapai rumah keluarga Polahi di sana.

"Inilah salah satu pintu masuk yang termudah kalau ingin mengunjungi mereka," ujar Kepala Dusun Pilomohuta, Udin Mole, ketika menemani Kompas.com menyusuri jalan mendaki dan melewati tujuh sungai tersebut.

Di Desa Bina Jaya sebenarnya ada 11 keluarga Polahi yang terdata. Namun, sejak kematian Kepala Suku mereka, Baba Manio, sebulan yang lalu, keluarga ini lalu berpencar. Sebab bagi suku Polahi, jika ada satu anggota keluarga yang meninggal, maka mereka semua harus meninggalkan rumah dan permukimannya, lalu mencari permukiman baru.

"Dulunya Polahi hidup sangat nomaden. Mencari lahan untuk ditanami, dan setelah itu berpindah ke lahan yang baru. Nanti setelah waktu panen, baru mereka akan balik lagi. Nyaris mereka tidak punya tempat tinggal tetap," kata Rosyid.

Namun, Polahi yang ditemui di pedalaman Hutan Humoholo sudah punya rumah tetap, walau masih terlihat sangat sederhana. Hanya terbuat dari papan sisa hasil para perambah hutan dengan atap dari daun kelapa dan daun rumbia.

Kini di hutan Humohulo ada sekeluarga Polahi yang merupakan keturunan Baba Manio yang kawin dengan istrinya Mama Tanio, yang tidak lain adalah saudaranya sendiri. Mereka hidup di dua rumah yang berbeda lokasi dengan jarak yang lumayan jauh.

Rumah pertama ditinggali Mama Tanio dengan anak mereka Babuta yang otomatis menjadi pimpinan sekarang. Babuta memperistri Lanio yang tidak lain anak dari ayahnya dengan seorang istri yang bernama Hasimah. Hasimah dengan keluarga lainnya tinggal di lokasi yang terpisah di hutan Tumba.

Di rumah utama ini, hidup anak-anak Mama Tanio serta anak-anak dari Babuta. Sementara rumah kedua ditinggali adik Mama Tanio yang hidup bersama anak lainnya dari Baba Manio yang bernama Laiya yang punya dua istri kakak beradik.

Kawin-mawin sesama saudara bagi Polahi adalah hal wajar. Ayah kawin dengan anak perempuannya, ibu kawin dengan anak laki-lakinya, serta kakak kawin dengan adiknya. "Kalau di kampung banyak orang, tetapi di sini hanya ada kita, jadi kawin saja," ujar Mama Tanio dalam bahasa Gorontalo berdialek khas dengan polosnya.

Keterisolasian mereka membuat praktik inses tersebut dianggap wajar. Polahi tidak mengenal agama. Mereka hanya menganut paham agama tradisional, yang percaya kepada alam. Polahi adalah warga yang termarginalkan dengan kebodohan mereka. Walau kini mereka sudah terbiasa pakai baju, tetapi pendidikan nyaris tidak pernah mereka rasakan.

"Dulu mereka tidak mengenal angka sama sekali. Tetapi sekarang karena sudah sering berinteraksi dengan warga lain, mereka telah mengenal uang," ujar Udin.

Pemerintah Gorontalo bukannya tidak pernah mencoba membawa mereka untuk hidup bersama masyarakat lainnya. Sebuah lokasi dekat dengan permukiman warga di Dusun Pilomohuta pernah dibangun. "Ada sembilan Rumah Layak Huni (Mahayani) yang dibangun oleh pemerintah. Tapi mereka tinggalkan dan masuk hutan lagi," jelas Udin.

Mama Tanio menuturkan, mereka tidak bisa hidup di daerah panas. Tempat mereka adalah hutan. Alamlah yang memberi mereka makan. "Kalau mau beri kami rumah, bangun di hutan sini, kami tidak bisa tidur kalau di kampung," Mama Tanio memberi alasan.

Pendekatan yang tidak memperhatikan karakter kehidupan Polahi membuat sembilan rumah di lokasi Mahayani tersebut kosong, serta membuat Polahi terus termarginalkan. "Hanya kepala dusun yang pernah sampai di gunung ini, pemerintah lainnya tidak pernah datang. Kepala dusun yang selalu bawa bantuan baju dan makanan buat kami," aku Babuta.

Babuta menjelaskan, jika pemerintah ingin merubah kehidupan mereka, seharusnya dengan tetap membiarkan mereka bersama dengan alam dan hutan yang sudah menjadi bagian dari kehidupan Polahi. "Leluhur kami mengingatkan jangan pernah tinggalkan hutan," tambah Babuta. 

Kondisi Polahi yang ditemui di Hutan Humohulo paling tidak sedikit menepis cerita mistis yang melingkupi suku Polahi. Beberapa kebiasaan primitif memang masih menjadi bagian dari kehidupan mereka. Namun, jika pendekatan yang tepat dilakukan, niscaya Polahi tidak lagi akan menjadi warga yang termarginalkan.

sumber: Kompas

Danau Tempe, Sulawesi Selatan - Indonesia

Danau Tempe adalah salah satu obyek wisata di Sulawesi Selatan yang banyak dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Danau yang luasnya 13.000 hektar ini, jika dilihat dari ketinggian tampak bagaikan sebuah baskom raksasa. Danau ini menjadi sumber penghidupan, mencari ikan, tidak hanya bagi masyarakat Kabupaten Wajo, tapi juga sebagian masyarakat Kabupaten Soppeng dan Sidrap. Di sepanjang tepi danau, tampak perkampungan nelayan bernuansa Bugis berjejer menghadap ke arah danau. 

Danau Tempe merupakan penghasil ikan air tawar terbesar di dunia, karena dasar danau ini menyimpan banyak sumber makanan ikan. Selain itu, danau ini juga memiliki spesies ikan tawar yang tidak dapat ditemui di tempat lain. Hal ini diperkirakan karena letak danau ini berada tepat di atas lempengan Benua Australia dan Asia. 

Di tengah-tengah Danau Tempe, tampak ratusan rumah terapung milik nelayan yang berjejer dengan dihiasi bendera yang berwarna-warni. Dari atas rumah terapung itu, wisatawan dapat menyaksikan terbit dan terbenamnya matahari di satu posisi yang sama, serta menyaksikan beragam satwa burung, bunga-bungaan, dan rumput air yang terapung di atas permukaan air. Di malam hari, para pengunjung dapat menyaksikan indahnya rembulan yang menerangi Danau Tempe sambil memancing ikan. 

Di setiap tanggal 23 Agustus diadakan festival laut atau juga sering disebut Maccera Tappareng (mensucikan danau) yang ditandai dengan pemotongan sapi yang dipimpin oleh ketua nelayan setempat. Dalam acara ini, para pengunjung dapat menyaksikan berbagai atraksi wisata yang sangat menarik, seperti lomba perahu tradisional, perahu hias, permainan rakyat (misalnya, lomba layangan), pemilihan ana' dara (gadis) dan kallolona (pemuda) Tanah Wajo, padendang (menabuh lesung), pagelaran musik tradisional dan tari bissu yang dimainkan oleh para waria, dan berbagai pagelaran tradisional lainnya. Pelaksanaan festival ini dimaksudkan agar nuansa kekeluargaan dan persatuan antar sesama nelayan tetap terjaga dengan prinsip "3-S", yaitu Sipakatau, Sipakainge, dan Sipakalebbi (saling menyegani, saling menasehati, dan saling menghargai). Dengan menyaksikan festival ini, para pengujung dapat mengetahui tentang kebudayaan masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan, khususnya Bugis Wajo. 

Danau Tempe terletak di Kecamatan Tempe, Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan. 

Danau ini terletak 7 km dari Kota Sengkang, ibukota Kabupaten Wajo. Untuk mencapai tempat ini, dari Kota Sengkang ke Sungai Walennae dapat ditempuh melalui jalur darat dengan menggunakan mobil pete-pete (mikrolet). Dari Sungai Walennae menuju ke Danau Tempe ditempuh selama 30 menit dengan menggunakan perahu motor atau katinting, dengan biaya sekitar Rp. 50.000,- hingga Rp. 75.000,- per-orang. 

Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan indahnya rembulan di malam hari sambil memancing ikan, bisa menginap di rumah terapung yang ada di tengah-tengah danau bersama nelayan setempat. 

sumber : WM 
foto: twip

Udang Selingkuh khas Wamena, Kabupaten Jaya Wijaya

Kembali dari provinsi paling timur di Indonesia, kali ini saya akan membagi cerita tentang salah satu kuliner khas masyarakat di Lembah Baliem, sebuah dataran tinggi dengan pemandangan yang begitu eksotis karena berada pada daerah pegunungan di Kabupaten Jayawijaya, Papua. Ditengah-tengah Lembah Baliem terbentang sebuah kota yang mungkin sudah kita kenal namanya, Wamena. Ya, kota ini merupakan ibukota dari Kabupaten Jayawijaya itu sendiri. Perlu diketahui lagi, letak geografis Wamena berada di ketinggian 1550-1600 meter diatas permukaan laut. Jadi tidak heran jika suhu udara di kota ini sangat dingin apalagi pada saat malam hari. Satu-satunya alat transportasi untuk menuju ke Wamena cuma bisa menggunakan pesawat udara, belum ada jalan darat yang menghubungkan wamena dengan kota-kota lain di Papua. Jadi jangan heran jika sampai disana kita akan menjumpai harga kebutuhan pokok sehari-hari yang relative cukup mahal karena memang semua barang yang diangkut kesana menggunakan pesawat.

Kenapa sampai disebut udang selingkuh. Sebutan udang dengan menggunakan embel-embel selingkuh ini ternyata sudah sangat popular pada kalangan masyarakat luas di Wamena. Alasannya cukup unik, karena udang ini memiliki capit yang besar menyerupai kepiting. Jadi masyarakat disana mengira ini merupakan hasil perselingkuhan antara udang dan kepiting … Padahal, untuk udang air tawar seperti di wamena ini memang memiliki capit yang agak besar, tidak seperti udang air laut pada umumnya yang tidak memiliki capit. Jadi teman-teman tidak perlu heran mendengar istilah udang selingkuh ini, karena udang ini hanyalah udang air tawar biasa yang mendapat julukan udang “selingkuh” dari masyarakat disana.

Udang selingkuh di wamena kebanyakan diperoleh masyarakat sekitar dari sungai baliem, sungai yang mengalir melintasi kota wamena. Disana ada masyarakat yang memang sengaja datang ke sungai untuk berburu udang, jika sudah dapat mereka akan langsung menjualnya ke pasar untuk kemudian akan dibeli oleh pemborong dari pemilik restaurant atau rumah makan. Di wamena juga ada kebiasaan unik yang agak aneh tapi memang begitu kenyataannya, jika kita memiliki udang tapi malas untuk memasaknya, kita dapat datang membawa udang tersebut ke rumah makan untuk minta dimasakan, dalam hal ini kita hanya akan membayar ongkos kerja dari si pelayan dapur plus bumbu-bumbu penyedap lainnya dan juga nasi putih. Namun kebiasaan ini tidak berlaku untuk seluruh rumah makan yang menyajikan udang selingkuh, hanya beberapa rumah makan saja yang memberikan pelayanan seperti ini, salah satunya di rumah makan blambangan di jalan trikora, wamena.

Saking terkenalnya udang selingkuh ini, pengunjung yang datang ke rumah makan biasanya tidak sedikit, jadi jika kita datang disaat kondisi rumah makan sedang ramai, kita harus mengantri terlebih dahulu untuk bisa menyantap kuliner khas kota wamena ini. Untuk penyajian, udang selingkuh ini bisa disajikan dengan cara digoreng ataupun direbus. Bumbu-bumbu penyedap rasa untuk udang yang digoreng dapat kita pilih sendiri mulai dari yang memakai saus mentega, saus tiram, saus padang dan juga saus asam manis plus sepiring kangkung yang ditumis. Sedangkan bagi teman-teman yang suka penyajian dengan cara direbus, bumbu penyedap seperti sambal kecap, buah tomat dan beberapa sayuran macam kol dapat menemani santap udang selingkuh persis kita menyantap lalapan. Udang selingkuh ini juga bisa disajikan dengan cara dibakar. Soal rasa, jangan diragukan lagi kualitas udang yang satu ini. Rasa dagingnya yang gurih dan lezat berpadu dengan bumbu penyedap akan sangat kental terasa dilidah saat kita memakannya. Selain itu, mengkonsumsi udang ini juga sangat sangat baik bagi kesehatan tubuh kita. Itu dikarenakan udang jenis ini memiliki kandungan kalsium dan protein yang sangat banyak. Sehingga udang ini bisa kita kategorikan kedalam sumber protein hewani. Tidak hanya itu, udang ini juga memiliki tingkat kandungan kalori yang sangat rendah, tercatat hanya sekitar kurang lebih 106 kalori/100gr daging udang segar. Hal ini tentunya sangat baik untuk menu makan bagi mereka yang sedang menjalani program diet. 

Kandungan lain yang terdapat dalam udang ini adalah mineral yang sangat baik bagi tubuh manusia. Di setiap 100gr daging udang segar terdapat sekitar 54% mineral selenium, kemudian juga terdapat fosfor dikisaran 20%, besi 13%, magnesium 9%, sodium 6%, dan tidak ketinggalan juga zinc sebesar 7%. Semua takaran ini didasarkan pada kebutuhan gizi harian manusia. (Sumber : Sportindo) Nah, Kebayangkan gimana manfaatnya udang ini bagi kita hehehe… Kembali ke udang selingkuh tadi, untuk mendapatkan seporsi udang ini memang agak mahal, kita harus mengeluarkan duit dikisaran 90rb-250rb rupiah. Harganya ini memang berdasarkan ukuran kecil besarnya udang, semakin besar udang yang kita pesan, ya semakin banyak juga yang harus kita bayar. Tapi tenang , seporsi udang selingkuh ini cukup banyak loh, kita tidak akan mampu menghabiskannya sendiri karena memang seporsinya itu untuk makan 3-4 orang.


sumber:nutrisi untuk bangsa
foto: Tabloid Jubi, google, detik

Cantiknya Desa Wabula, Buton-Sulawesi Tenggara

DI Buton, ada sebuah desa cantik di tepi pantai yang lokasinya cukup jauh dari perkotaan. Namun, keindahannya pasti membuat siapa saja ingin datang dan meninggalkan sejenak suasana kota yang ramai.

Desa tersebut adalah Desa Wabula. Seperti umumnya desa-desa di tepi pantai, desa ini dihuni 3.000 penduduk yang tinggal di rumah-rumah panggung. Hanya jalan utama desa yang diaspal, selebihnya kaki Anda akan menginjak pasir putih yang lembut.

Rumah-rumah panggung berjejer begitu rapi di tepi pantai. Lingkungan sekitar rumah bersih dari sampah, membuatnya sedap dipandang. Pantainya pun begitu bersih tanpa limbah sedikitpun.

Penduduk Desa Wabula bermata pencaharian sebagai nelayan. Sementara, para perempuannya memiliki usaha mandiri menenun kain Buton. Setiap hari, perempuan-perempuan desa menenun selama 5-6 jam, di bagian bawah rumah panggung mereka.

Tradisi menenun kain Buton ini mereka turunkan kepada anak perempuannya. Bahkan, di sekolah diajarkan menenun, dalam mata pelajaran Muatan Lokal (Mulok).

Pantai di Desa Wabula pun unik. Siang hari, garis air di bibir pantai berjarak sekira 20 meter dari rumah-rumah. Namun menjelang sore, garis pantai akan surut hingga 50 meter dari rumah-rumah tersebut.

Desa Wabula berjarak cukup jauh dari kota terdekat, yaitu Pasarwajo. Anda harus berkendara selama sekira satu jam. Jangan harap bisa menggunakan ponsel di desa ini, karena saat tiba sinyal ponsel akan sulit didapatkan. Namun tak masalah, keindahan Desa Wabula pasti membuat Anda ingin lepas sejenak dari gadget kesayangan.


Sumber & Foto :Mutya/Okezone

4 Pulau Cantik Kekayaan Sumatra Utara

SUMATRA Utara tidak hanya punya Danau Toba atau Brastagi. Provinsi ini juga memiliki banyak pulau cantik nan mempesona.
Simak ulasannya berikut ini, seperti dikutip dari Skyscanner:

Pulau Mursala
Pernah menonton film Mursala yang dibintangi Atiqah Hasiholan dan Rio Dewanto? Pulau Mursala adalah tempat dimana film tersebut mengambil gambar. Pulau Mursala memiliki air terjun yang indah serta terumbu karang di laut yang masih sangat alami. Perjalanan ke Mursala dapat ditempuh dengan dua cara, yakni darat dan udara dari Medan ke Sibolga yang menghabiskan waktu sekira 8-9 jam.

Pulau Samosir
Tahu Danau Toba, pasti tahu Pulau Samosir. Pulau Samosir letaknya masih di dataran tinggi Sumatra Utara, tepatnya di Kabupaten Samosir. Ia merupakan sebuah pulau di tengah-tengah Danau Toba. Objek wisata yang ditawarkan Samosir terletak pada kampung-kampung tua yang masih memiliki bangunan-bangunan adat. Salah satu objek wisata yang terkenal di pulau Samosir adalah Batu Gantung yang konon menurut legenda adalah jelmaan seorang putri.

Pulau Nias
Pulau Nias kembali bangkit dan sedang gencar mengembangkan pariwisatanya setelah gempa yang meluluhlantakkan pulau ini pada tahun 2004 dan 2005 lalu. Salah satu pantainya yang terkenal adalah pantai Lagundri yang menjadi magnetnya para pencinta surf atau olahraga selancar dari berbagai penjuru dunia. 

Pulau Sibaranun
Siapa sangka pulau yang hanya berjarak 45 menit dari pulau Tello ternyata juga menyimpan ombak-ombak yang bisa membuat penasaran para peselancar lokal maupun asing. Tempat ini memiliki fasilitas penginapan yang pas buat mereka yang hobi backpacking dengan bungalow tradisional yang dibangun di pinggir pantai dan menghadap ke laut.

Itik Rekko Pilihan Kuliner Terbaru di Kolaka, Sulawesi Tenggara

Mungkin masih jarang yang mengetahui kalau saat ini sajian kuliner di Kolaka, Sulawesi Tenggara sudah mulai beraneka ragam. Selain kuliner asli suku Mekongga (suku asli Kolaka) berupa sinonggi, kini banyak pilhan lain tidak kalah menariknya. Contohnya Itik Rekko. Makanan yang diolah dengan berbagai macam rempah-rempah khas Indonesia dan memiliki bahan baku dasar yang tidak biasa ini, seakan membuat makanan berkuah tersebut memiliki kelas yang tinggi.

Itik Rekko merupakan potongan kecil daging itik yang telah dimasak bersama berbagai macam rempah seperti lada hitam dan berbagai bumbu lainnya. Rasanya yang lebih dominan oleh rasa pedas seakan menjadi daya tarik yang kuat bagi para penikmatnya.

Saking populernya, menu Itik Rekko yang hanya ada di satu rumah makan pinggir jalan di kawasan Balandete, Kolaka ini selalu menjadi incaran penikmat kuliner di akhir pekan.

Menurut Ibu Harti, pemilik warung tersebut, bahwa menu yang ada warung kecil miliknya itu sebelumnya tidak populer. Sebab makanan itu hanyalah masakan rumahan yang biasa disajikan bersama keluarganya di kampung halaman. Tapi setelah berjalan beberapa saat, menu itu sudah mulai dicari oleh para pelanggannya. 

“Dagingnya dimasak hingga empuk dan kemudian bumbu yang berupa racikan khusus dimasukkan lalu direbus kembali. Memang pedasnya luar biasa tapi rasanya nikmat. Ini sebenarnya makanan rumahan yang biasa saya masak di kampung. Tapi Alhamdulillah banyak yang senang, apalagi bahan dasarnya kan daging itik. Di Kolaka itu jarang daging itik dijual, yang ada hanya daging ayam,” paparnya.

Terlebih lagi kuah dari Itik Rekko ini sedikit kental dan lebih nikmat lagi ketika diberi tetesan jeruk nipis yang telah disiapkan. Paduan rasa pedas dan kelembutan daging itik serasa menjajal makanan di restoran mahal. Padahal menu spesial yang menjadi incaran penikmat kuliner di Kolaka ini, hanya tersedia di warung kecil ukuran 4 x 5 meter dan terletak di pinggir jalan protokoler Kolaka.

“Memang kalau mau menikmati makanan yang seharga Rp 20.000 per porsi ini biasanya dengan nasi putih dan semangkuk sup. Biasanya pelanggan meminta sup yang panas sehinga betul-betul pas rasanya. Saya biasanya buka di pagi hari sekitar jam 9 dan tutup jelang magrib. Alhamdulillah sudah mulai banyak penikmatnya,” kata ibu dengan dua orang anak ini.

Munculnya menu Itik Rekko di Kolaka sebagai salah satu pilihan kuliner semakin menambah pilihan kuliner di kota penghasil kakao ini. Bahkan saking banyaknya menu yang muncul di setiap rumah makan, DPRD setempat akan mencoba membuat rancangan perda khusus kuliner di Kolaka. 

Sumber : Kompas

Pantai Tanjung Bira, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan

Nama Tanjung Bira di Bulukumba, Sulawesi Selatan, bisa dibilang semakin santer terdengar. Terutama di kalangan para pelancong yang berburu keindahan alam laut jernih nan memesona. Tanjung Bira layaknya primadona di ujung Sulawesi Selatan.

Bagaimana tidak, saat cuaca cerah, langit biru sangat bersih memantul di hamparan laut yang ada di bawahnya. Pantai Tanjung Bira berpasir putih. Pasirnya sangat lembut dan saat menjejakinya seperti menginjak tepung putih. Sebegitu halusnya bahkan nyaris tak terdengar bunyi langkah kaki yang terseret saat melangkah.

Ombak yang datang menerpa pantai pun tak terlalu kuat. Malah, bisa dibilang laut pantai Tanjung Bira sangat tenang. Sesekali ombak menghempas pantai dengan kekuatan kecil seperti menggelitik kaki.

Tak jauh dari bibir pantai, ada hamparan pulau memanjang. Menurut Kepala Bidang Promosi Kabupaten Bulukumba, Zainuddin, pulau tersebut bernama Liukang Loe. "Liukang Loe masih berpenghuni. Di dekat sana ada tempat yang biasa dijadikan spot diving atau snorkeling," katanya.

Namun untuk mencapai ke Liukang Loe, pengunjung harus menyewa kapal dari pantai. Tenang saja, kapal-kapal yang akan membawa pengunjung ke Liukang Loe telah bersiap di bibir pantai Bira. Tinggal pintar-pintar saja menawar harga.

Kalau pun tak menyeberang ke Liukang Loe dan memilih menikmati Pantai Bira, bisa saja. Banyak kegiatan dan olahraga air yang bisa dilakukan. Terlihat beberapa pengunjung sibuk bermain pasir pantai. Ada yang menulis nama, membuat bangunan dari pasir, maupun mengubur dirinya ke dalam pasir.

Ada juga beberapa anak yang mencari kerang atau keong kecil yang terhempas dari laut dan akhirnya hidup di pantai. Ada banyak kerang dan keong yang telah pergi dari cangkang mereka. Tetapi jika beruntung juga bisa ditemukan yang masih utuh, berjalan-jalan di pasir pantai lengkap dengan rumahnya.

Selain bermain pasir juga bisa melakukan olahraga air, seperti banana boat hingga snorkeling. Para penyedia fasilitas olahraga air ini akan menawarkan langsung kepada pengunjung yang datang.

Akses

Pantai Tanjung Bira terletak di ujung paling selatan Provinsi Sulawesi Selatan. Berada di Kabupaten Bulukumba, perlu waktu sekitar satu jam untuk mencapai tempat ini dari pusat kota Bulukumba dan empat jam dari Makassar dengan menggunakan kendaraan pribadi. 

Pantainya telah dilengkapi fasilitas seperti warung makan yang memenuhi kebutuhan konsumsi pengunjung, warung oleh-oleh dan tak lupa toilet umum.

Sumber : Kompas

Pindang Patin Tempoyak Khas Palembang - Sumatra Selatan

Pindang adalah masakan berkuah yang sangat khas Sumatra Selatan. Tetapi, ternyata, di Sumatra Selatan ada beberapa gagrak masakan pindang, yaitu: pindang palembang, pindang pegagan, pindang meranjat, dan pindang musi-rawas. Masing-masing mempunyai ciri kedaerahan yang lebih khas. Pegagan dan Musi Rawas adalah desa-desa yang letaknya di sebelah Timur Palembang, sedangkan Meranjat berada di sebelah Utara Palembang.

Mereka yang suka masakan berbumbu intens mungkin akan cenderung menyukai pindang meranjat karena "tendangan" rasa calok atau trasi-nya, dan juga tingkat kepedasannya. Pindang pegagan lebih soft rasa trasi-nya. Pindang dari daerah Meranjat juga sering memakai ikan salai (ikan yang diasap) untuk memperkuat citarasanya. Sedangkan masakan pindang dari Palembang dan Musi Rawas tidak memakai trasi. Kedua gagrak yang terakhir ini lebih menonjol rasa asamnya, dan tidak seberapa pedas. Rasa asamnya sering dicapai dengan penggunaan cung kediro (tomat ceri) dan asam jawa. Pindang dari Palembang juga menggunakan lebih banyak daun kemangi untuk membuatnya harum.

Di daerah Sumatra Selatan, hampir semua masakan pindang dibuat dari ikan. Yang paling populer adalah ikan patin dan ikan baung. Di masa lalu, ikan belida pun banyak dimasak pindang, ketika jenis ikan ini masih banyak dijumpai dan harganya belum melenting jauh. Di masa kini, masakan pindang juga seringkali memakai tulang iga sapi - sesuai dengan perkembangan citarasa masyarakat.

Karena itu, bila singgah ke Palembang, jangan puas hanya mencoba satu jenis pindang. Jangan pula lewatkan satu jenis pindang yang sangat khas di Palembang, yaitu pindang tempoyak. Ini berarti ke dalam kuah pindangnya juga ditambahkan tempoyak - yaitu durian yang difermentasikan. Hasilnya adalah kuah pindang yang lebih kental, dengan aroma khas tempoyak, serta citarasa dengan tone seimbang manis-asam-pedas yang sungguh mak nyuss. Sekalipun tempoyak mempunyai citarasa umum yang cukup standar, tetapi kualitasnya sangat beragam. Semakin bagus duriannya, semakin bagus pula tempoyaknya. Semakin bersih proses pembuatannya, semakin mulus pula kualitas tempoyak yang dihasilkan. Karena itu, mutu dan citarasa pindang tempoyak pun sangat bergantung pada mutu tempoyak yang dipakai.

Secara umum, masakan pindang dari Sumatra Selatan ini sangat mirip dengan masakan asam pedas dari Riau. Apalagi, kedua jenis masakan ini juga sama-sama menggunakan ikan laut sebagai bahan utama. Di restoran-restoran, pindang biasanya dimasak a la minute. Artinya, bila dipesan, barulah dimasak. Dengan demikian, tamu selalu dapat masakan yang segar. Lembutnya daging ikan patin dan ikan baung sangat padan dipadu dengan citarasa lembut asam pedas yang menawan.

Di Palembang, ikan patin yang dipergunakan adalah jenis ikan patin sungai yang masih liar. Ukurannya besar-besar - paling kecil berukuran 1 kilogram. Ikan patin sungai ini berlemak, dan tidak bau lumpur. Sungguh sangat beda dari ikan patin budidaya yang biasanya berukuran sekitar 500-700 gram dan kadang-kadang bau lumpur. Ikan patin sungai yang lemak dibakar, juga sangat bagus teksturnya untuk dimasak sebagai pindang. sumber : detikfood

Bakar Perahu dan Manusia Ikan di Torosiaje Laut-Provinsi Gorontalo


Desa Suku Bajo Torosiaje Laut terletak di kecamatan Popayato, kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Desa itu didirikan tahun 1901. Pendirinya bernama Pata Sompa. Ia seorang haji. Dulu, orang-orang yang berlalu lalang naik perahu bilang, bahwa mereka ingin mampir ke toro siaje atau tanjung si Haji. Maka, jadilah nama desa Suku Bajo itu Torosiaje. 

Penduduk Torosiaje Laut berjumlah sekitar 1200 orang. Di sana, ada sekitar 245 rumah. Desa itu panjangnya 2 kilometer dan lebarnya 1 kilometer. Seluruh desa itu terangkai menjadi satu dengan jembatan-jembatan yang saling menyambung. Torosiaje Laut seperti desa-desa di darat. Lihatlah bentuk rumah-rumahnya, seperti bentuk rumah di darat. Di sana juga sudah ada listrik, sekolah, toko-toko kecil, penginapan dengan toilet duduk, dan bahkan panel surya. Penduduknya pun sudah biasa memakai telepon genggam. 

Meski keadaannya mirip desa di darat, tapi suasananya berbeda. Saat memperhatikan masyarakatnya beraktifitas, memandangi lautan yang terbentang di depan rumah-rumahnya, menapaki jembatan-jembatan kayunya… Duh, uniknya! 


Tradisi bakar perahu agar perahu lebih awet.


Torosiaje Laut semakin unik dengan tradisi-tradisinya. Salah satunya, tradisi bendera putih. Bendera itu ditancapkan di bagian desa yang menghadap ke laut lepas. Fungsinya untuk tolak bala. Artinya, untuk melindungi desa, misalnya dari penyakit. Setiap 10 tahun sekali, diadakan upacara mengganti bendera putih itu. 


Ada pula tradisi bakar perahu. Tradisi bakar perahu dilakukan agar perahu terawat dan awet bertahun-tahun. Caranya, perahu dibakar di atas api dan daun kelapa kering. Lalu, perahu digosok-gosok dengan daun-daun kelapa kering. Bakar perahu dilakukan seminggu atau 10 hari sekali.
 

Pssstt… Torosiaje Laut juga punya kisah unik tentang Sengkang, si manusia ikan! Masyarakat di sana bilang, sewaktu kecil, Sengkang seperti anak biasa. Namun, suatu hari, tiba-tiba, ia masuk ke dalam laut dan tidak ingin ke darat lagi. 


Jembatan kayu yang menyatukan seluruh Desa Torosiaje Laut.
Sengkang akhirnya hidup di dalam laut. Ia makan, tidur, dan bermain di laut. Karena selalu berada di dalam laut, badannya sampai berlumut. Sengkang meninggal dunia pada umur 38 tahun. 

Masyarakat Torosiaje Laut mengaku mereka mengenalnya. Ada yang suka mengajak Sengkang bermain dan bercanda. Ada juga yang memotong rambut Sengkang jika rambutnya sudah panjang. Sayangnya, foto-foto mereka bersama Sengkang selalu tidak bisa dilihat jelas. Akhirnya, Sengkang sering dianggap kisah legenda dari Torosiaje Laut. (lita) 

Foto : dokumentasi Majalah Bobo
Sumber: Kidnesia.com

Moke, Minuman Khas Flores

Setiap daerah di Nusantara biasanya memiliki minuman khas, begitu juga dengan Flores, NTT.

 Moke adalah minuman khas orang Flores. Ada Moke Putih dan Moke Hitam. 

 Moke putih adalah nira hasil sadapan dari pohon lontar atau pohon enau. Moke putih akan manis rasanya bila wadah tampungan bersih.

 Biasanya bambu berukuran seruas di cuci bersih dan dikeringkan kemudian digantungkan pada ujung mayang yang telah di jepit atau di pukul-pukul kemudian dipotong ujungnya. 

 Akan kelihatan ada cairan bening menetes dari ujung mayang. Itulah moke putih. Moke putih yang manis dapat dimasak dan dijadikan gula merah. Sedangkan moke putih yang diminum sebagai teman makan adalah moke yang ditampung dengan wadah bambu yang tidak bersih sehingga terjadi peragian.

 Dan rasa minuman agak pahit. Moke putih sejenis ini ada yang langsung diminum, tetapi lebih banyak digunakan untuk dimasak atau disuling dan menghasilkan moke hitam atau tuak.

 Moke hitam sesungguhnya tidak hitam. Warnanya seperti air putih dan agak kuning. Ini adalah hasil sulingan dari moke putih. Moke putih disuling di Kuwu tua (saung penyulingan tuak).

 Moke diolah dari sari enau atau tuak. Biasanya dimasak di rumah-rumah khusus atau pendopo-pendopo di kebun-kebun milik warga secara tradisional dengan pengetahuan turun-temurun 

 Orang Flores selalu menikmati tuak bila ada pesta. Tidak ada pesta tanpa tuak. Tuak sudah menyatu dengan pesta. Makan daging tanpa tuak terasa hambar dan kekurangan. Tuak membuat rasa komplit. 


sumber: Ghiboo

4 Dermaga Indah di Raja Ampat


Ada 4 dermaga yang sangat indah di Raja Ampat jika kamu pergi ke dermaga ini maka kamu bisa melihat keindahan dasar lau langsung dari atas dermaga tadi. Siapa yang tidak kenal Raja Ampat derah ini memiliki pesona wisata bawah laut yang sangat luiar biasa pemandangan bawah laut di derah ini bisa dibilang yang no satu di Indonesia. Bagi yang bisa menyelam kamu bisa melihat ke indahan terumbu karang dan pesona keindahan bawah laut Raja Ampat namun jika kamu tidak bisa meyelam kamu jangan khawatir kamu tetap bisa melihat keindahan terumbu karang Raja Ampat yang sangat indah caranya dengan datang ke dermaga berikut ini. Didermaga ini kamu bisa melihat langsung Terumbu karang yang ada di bawah laut dan ikan-ikan laut yang beraneka ragam hanya dari dermaga. Nah mau tahu dermaga apa aja itu simak 4 Dermaga Indah di Raja Ampat berikut ini.


1. Dermaga Waiwo

Dermaga ini terletak di Waiwo, Pulau Waisai. Di dekatnya terdapat salah satu penginapan murah, yaitu Waiwo Dive Resort seharga Rp 500 ribu per malam, per orang. Dari dermaga inilah, wisatawan dapat melihat gerombolan ikan laut yang cantik. Selain memandangi ikan-ikannya, kamu juga bisa memberinya makan. Ambillah makanan seperti biskuit lalu taburkan ke permukaan air. Dalam sekejap, ikan-ikan laut beraneka ragam akan datang dan memakannya. Kamu tidak dikenakan biaya sepeser pun untuk memberi makan ikan-ikan di sini. Dermaga Waiwo juga menjadi ramai didatangi penduduk setempat. Mereka duduk manis di dermaga, dari anak kecil sampai orang tua, untuk memberi makan ikan. Tapi, ada beberapa peraturan di sini.Kamu dilarang membuat ikan ‘stress’ dengan cara menceburkan diri di antara mereka. 

 2. Dermaga Pulau Mansuar

Di Pulau Mansuar, sekitar 45 menit dari Waisai, ada dermaga Raja Ampat Dive Lodge. Ini adalah dermaga bagi para turis yang menginap di resor Raja Ampat Dive Lodge. Dermaganya cukup luas dan panjang. Dari atas dermaga, siap-siap terpukau oleh bebatuan karang dan ikan-ikan. Salah satu ikan yang dapat kamu lihat adalah ikan badut atau Clown Fish. Mereka berenang di antara bebatuan karang. Tak hanya satu, tapi ada banyak! Asyiknya, kamu bisa snorkeling di sekitar dermaga ini. Airnya yang jernih akan membuat kamu lupa daratan. Baik kamu menginap ataupun hanya singgah di resor, bebas snorkeling sepuasnya di sini. Saat lelah, beristirahatlah di pantainya yang berpasir putih nan halus.

3. Dermaga Pulau Arborek

Siap-siap terhipnosis di Dermaga Pulau Arborek. Dari atas dermaganya, terlihat air laut yang biru dan jernih serta terumbu karang yang cantik. Dermaga Pulau Arborek lebih luas dan dapat lebih banyak menampung banyak orang. Uniknya, di dermaga Pulau Arborek terdapat buku tamu. Isinya adalah turis-turis yang berasal dari belahan penjuru dunia. Ada yang dari Italia, Inggris, China, hingga Brazil. Hampir semuanya menulis kata ‘awesome’ pada kolam ‘kesan dan pesan’ di buku itu. Saat berdiri di dermaga Pulau Arborek, dijamin kamu akan tergoda untuk menceburkan diri. Tak perlu menunggu waktu, kamu bebas snorkeling sepuasnya di sana. Lihatlah kayu-kayu di bawah dermaganya. Ada banyak tumbuhan laut yang menempel dan ikan-ikan yang berkeliaran di sekitarnya. Tak jauh dari dermaga, kamu bisa melihat beragam terumbu karang. Bintang-bintang laut di sini juga ukurannya besar-besar. Ingat, lautan di sekitar dermaga Pulau Arborek adalah lautan yang dalam. Jangan sampai terbawa arus ke tengah laut bagi kamu yang tidak mahir berenang . 

4. Dermaga Pulau Sawing Rai

Tak hanya di Waiwo, kamu juga bisa memberi makan ikan di dermaga Pulau Sawing Rai. Memberi makan ikan dan melihat burung cendrawasih adalah satu paket di sini. Harganya sekitar Rp 100 ribu saja per orang. Untuk memberi makan ikan di dermaganya, jari-jari tangan Anda akan diluluri adonan tepung terigu. Setelah itu, celupkanlah jari-jari Anda ke dalam air laut dan lihatlah ikan-ikan yang datang menghampiri kamu. Rasakan pengalaman digigit ikan-ikan di Raja Ampat. Ikan dengan corak beragam warna menghampiri kamu dengan cara bergerombol. Rasanya geli, tapi terkadang juga sakit jika jari kamu digigit oleh ikan besar. Tapi tenang saja, tidak berbahaya. Nah itulah empat dermaga indah yang harus kamu kunjungi jika kamu berwisata di Raja Ampat seprti di kutip dari situs detik.com.

Nasu Kadundung, Khas Suku Pattae di Polewlai Mandar Sulawesi Barat

Bosan menikmati menu masakan di restoran atau di warung langganan Anda yang menunya itu-itu juga? Cobalah Nasu Kadundung, masakan khas Suku Pattae di Polewali Mandar, Sulawesi Barat yang kaya vitamin, protein, karbohidrat dan gizi ini.

 Aroma dan rasanya yang khas dijamin bisa memancing selera makan Anda. Perpaduan bumbu-bumbu alami seperti daun kedondong, pakis, lengkuas, cabe rawit dan bahan utama dari ayam kampong dijamin membuat masakan sehat ini layak menjadi referensi Anda.

 Jika Makassar dan Jakarta terkenal dengan coto makassar dan soto betawinya, di Polewali Mandar populer dengan nasu kadundungnya. Mampir di kota tujuan wisata Polewali Mandar di Sulawesi Barat ini rasanya tak lengkap jika Anda tidak memanjakan lidah dengan masakan yang satu ini.

 Nasu kadundung adalah masakan khas Suku Pattae di Polewali Mandar kini mulai dilirik sejumlah warga sebagai salah satu menu masakan yang memiliki cita rasa yang khas. Selain kaya gizi dan sehat karena tanpa penyedap rasa, nasu kadundung biasanya disajikan dengan ketupat atau nasi.

 Bahan-bahan yang digunakan seperti daun kedondong muda, pakis, merica bawang merah dan putih, lengkuas, gula merah, serei, daun sup dan cabe rawit seluruhnya menggunakan bumbu alami atau tanpa bahan kimia.

 Nasu kadundung dahulu populer disajikan pada saat acara pesta adat, sunatan atau pesta pengantin sebagai salah satu makanan khas. Namun kini mulai dilirik sejumlah warga sebagai salah satu potensi bisnis kuliner yang menjanjikan keuntungan.

 Tak heran jika obyek wisata alam pemancingan di kawasan Rawamangun, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar kini mulai menyajikan nasu kadundung sebagai salah satu sajian khas mereka kepada para pengunjung atau wisatawan yang datang.

 Aroma khas dan rasa asem daun kedondong yang kaya vitamin dan zat gizi membuat nasu kadundung makin dicari-cari para penikmatnya. Hamsir, salah satu penggemar nasu kadundung mengaku menggemari masakan ini lantaran rasa dan aromanya yang khas. Nasu kadundung juga dipercaya sehat dan bebas kolesterol. Pasalnya masakan ini menggunakan ayam kampung dan bebas penyedap rasa.

 "Makanan khas Suku Pattae ini sudah lama dikenal sebagai sajian favorit di pesta-pesta sunatan atau pengantin, dan kini mulai banyak dijual di sejumlah warung yang menyajikan masakan khas," ujar Hamzir. 

Hesti, pemilik warung nasu kadundung di kawasan pemancingan alam Rawamangun semula hanya coba-coba menawarkan menu masakan ini kepada para para pengunjung atau wisatawan yang datang ke lokasi pemancingan tersebut. Ternyata belakangan menu ini cukup diminati pengunjung.

 "Cita rasa dan aromanya yang khas menjadikan makanan ini tak bisa dilupakan bagi siapa pun yang pernah mencoba merasakannya," ujar Hesti.

 Harganya yang relatif murah dan terjangkau membuat masakan yang satu ini layak Anda coba. Untuk satu porsi nasu kadundung lengkap dengan ketupat atau nasinya hanya Rp 20.000. Tak heran jika nasu kadundung kini tak hanya dikenal di Polewali Mandar, tapi juga mulai dikenal di luar daerah seperti Majene, Mamuju, Pinrang bahkan Palu, Sulawesi Tengah.

Sejumlah lembaga atau instansi pemerintah yang pernah menggelar kegiatan di lokasi wisata kolam pemancingan Rawamangun langsung terkesan dan jatuh hati dengan sajian masakan khas masakan Polewali Mandar ini.

sumber: okezone.com

Pusat Kerajinan Rumah Kayu, Kota Tomohon - Sulawesi Utara

Bagi peminat wisata kerajinan di wilayah Sulawesi Utara, jangan sampai melewatkan kesempatan menengok desa Woloan di kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon. Berwisata di desa ini terasa sangat istimewa karena pengunjung tidak akan menemui kerajinan pada umumnya, misalnya hasta karya berupa asesori ruangan rumah (bisa berupa lukisan, patung dari kayu dan batu, dsb.), perhiasan mutiara atau perak, pakaian, maupun kain. Namun, kerajinan yang akan ditemukan di sini berupa kerajinan rumah kayu tradisional Minahasa. Hasil kerajinan mereka merupakan produk unggulan, baik dari segi nilai jual ataupun kualitasnya. Sehubungan dengan nilai dan kualitas kerajinan mereka, para pengrajin di desa ini telah menerima pesanan dari berbagai daerah di nusantara, misalnya berbagai kota di Jawa, Jakarta, Bali, dan mancanegara, seperti Prancis dan Belanda. Tak jarang, ada juga pengusaha pariwisata yang memesan rumah buatan mereka yang nantinya difungsikan sebagai bungalow atau cottage. Pasokan bahan baku utama (kayu) untuk pembuatan rumah tradisional sebagian besar berasal dari Palu, Sulawesi Tengah serta beberapa daerah di Provinsi Sulawesi Tenggara. Kayu yang dipakai untuk pembuatan rumah-rumah tersebut ialah kayu cempaka dan meranti. Warga desa Woloan memilih profesi ini karena keuntungan yang didapat relatif besar. Selain itu, pekerjaan ini merupakan pekerjaan turunan dari pendahulu-pendahulu mereka yang memang telah dikenal handal dalam ranah kerajinan rumah kayu khas Minahasa ini. Desa Woloan sendiri memiliki kisah sejarah yang panjang. Desa yang telah berusia lebih dari 150 tahun ini ada sejak tahun 1845. Konon, desa ini didirikan oleh lima orang pemuka desa. Di antara kelimanya, disebut nama Walian Pontoh sebagai hukum tua atau kepala desa yang pertama kali. Selain selaku pemimpin desa, ia juga ahli pengobatan bagi masyarakat desa. Terkait dengan itu, nama Woloan berasal dari Walian dimana Walian ialah gelar adat yang dilekatkan kepada seseorang di dalam sebuah kelompok masyarakat tertentu di Minahasa lantaran dianggap memiliki keistimewaan tertentu, sehingga ia pantas menjadi orang nomor satu di desanya.
    Rumah kayu hasil kerajinan warga desa Woloan memang unik. Rumah yang terbuat dari kayu ini bisa dibongkar-pasang dan diboyong kemanapun sesuai dengan kehendak pemiliknya. Meski tidak kaya dengan seni ukiran pada komponen kayu penyusun rumah, corak dan bentuk kayu yang telah diproses tampak khas desain arsitektur Minahasa, seperti layaknya desain arsitektur rumah panggung di Sumatera. Mengunjungi desa Woloan akan melahirkan kekaguman tersendiri terhadap kreativitas masyarakatnya. Tidak seperti daerah lain di Sulawesi Utara yang mengandalkan kekayaan alamnya, seperti vanili, pala, cengkeh, dan kopra, desa Woloan justru menyajikan kerajinan rumah kayu. Apabila pengunjung berminat dengan kerajinan mereka, maka tidak perlu repot-repot membawanya pulang saat itu jua. Mereka telah menyediakan jasa pengiriman rumah kayu khas Minahasa ini. Tidak jauh dari lokasi ini, wisatawan dapat memandang keindahan Gunung Lokon, gunung berapi yang menjadi andalan wisata pemerintah kota Tomohon. Gunung ini terletak di utara desa Woloan. Suasana akan terasa lebih dekat dengan alam yang indah dan 'sehat' ketika kita menikmati air dari mata air yang ada di sana. Begitu juga dengan areal perkebunan sayur-mayur di desa Kakaskasen yang berada di kaki Gunung Lokon.
      Desa Woloan terletak di Kecamatan Tomohon Tengah, Kota Tomohon, Minahasa, Sulawesi Utara.
        Desa Woloan berada di selatan Gunung Lokon atau sekitar 3 km dari arah barat daya Tomohon. Dari pusat kota Tomohon, hanya memerlukan waktu kurang lebih 10 menit dengan mikrolet. Wisatawan akan lebih cepat sampai di lokasi apabila menggunakan taksi atau kendaraan pribadi.

        Sumber: wisata melayu

        Binte Biluhuta, Khas Gorontalo

        A. Selayang Pandang

        Provinsi Gorontalo terkenal sebagai penghasil jagung terbesar di Indonesia. Jagung  yang berkualitas tinggi tersebut telah menembus pasar di beberapa negara di dunia, seperti Malaysia, Singapura, dan Gambia (Afrika Barat). Selain sebagai komoditi ekspor, jagung yang juga rasanya manis tersebut menjadi bahan utama pada makanan khas Gorontalo yang lazim dikenal  dengan binte biluhuta. Selain jagung, makanan ini juga menggunakan bahan  utama lainnya, seperti ikan tuna, cakalang, tengiri, dan udang. Makanan khas  Gorontalo ini termasuk jenis masakan sup yang rasanya segar, gurih, sehingga sangat  cocok dinikmati pada saat cuaca dingin, terutama bagi mereka yang sedang flu.
        Binte biluhuta termasuk  makanan favorit masyarakat Gorontalo. Pada tahun 2005, sebanyak 10 ribu orang makan sup jagung ini secara bersamaan di sepanjang jalan Ahmad Yani hingga  jalan Panjaitan Kota Gorontalo, sehinga kegiatan makan bersama ini tercatat  dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) ke-1.761.

        B. Keistimewaan

        Kekhasan makanan binte biluhuta terletak pada keragaman rasanya, ada rasa manis, kecut, pahit, dan pedas. Cara penyajiaannya pun berbeda dengan sup-sup lainnya. Pada saat masakan ini disajikan, bumbu-bumbu yang membuat  rasanya berbeda, seperti cabe rawit penyebab rasa pedas, daun pepaya penyebab rasa pahit, dan jeruk nipis penyebab rasa kecut, diletakkan pada wadah yang terpisah. Tergantung selera masing-masing pelanggan mau memilih rasa apa. Jika anda penggemar rasa pedas, boleh menambahkan cabe rawit yang sudah ditumbuk kasar.  Jika anda suka rasa pahit, iris daun pepaya tipis-tipis lalu campurkan ke dalam sup. Begitu pula jika anda ingin rasa kecut, tambahkan perasan jeruk nipis, sehingga anda akan merasakan kuahnya yang kecut segar berpadu dengan krius-krius manis jagung dan harum kemangi.
        Meskipun menggunakan bahan utama ikan, makanan khas Gorotalo ini tidak berbau atau terasa amis, karena bau amis tersebut tertutupi oleh rasa kecut,  pahit atau pedas. Santaplah binte bilutuhe ini selagi masih panas.

        C. Lokasi

        Ketika memasuki Kota Gorontalo, wisatawan tidak akan kesulitan untuk  mencicipi masakan binte biluhuta. Di kota ini, wisatawan dapat menikmati menu sup jagung ini mulai dari warung makan di pinggir jalan hingga di restoran.

        D. Harga

        Harga binte biluhuta di Kota Gorontalo berkisar antara Rp. 5.000,00 hingga Rp.10.000,00 per porsi.

        E. Akses

        Untuk menemukan masakan sup ini di Kota Gorontalo tidaklah sulit. Anda  tinggal memilih jenis angkutan yang tersedia di kota ini, seperti bentor (becak  motor), bendi, ojek, mobil mikrolet, dan bus.

        F. Akomodasi dan Fasilitas

        Jika anda kemalaman dan ingin menginap di Kota Gorotalo, di sana banyak tersedia  penginapan dan hotel.
        (Samsuni/wm/29/03-08)
        __________
        Sumber Foto: kulinerkita

        Warna Warni Danau Linow, Kota Tomohon - Sulut

        Siapa bilang Sulawesi Utara hanya terkenal dengan pantai dan keindahan bawah lautnya? Provinsi ini juga kaya akan keindahan alam lainnya, salah satunya Danau Linow di Minahasa. Danau ini unik karena terlihat berwarna-warni. Danau seluas 34 hektar ini merupakan lokasi favorit masyarakat setempat. Selain warna-warni danau yang indah, alam sekitarnya pun cantik. Burung-burung belibis (ada yang menyebutnya itik liar) terbang rendah sambil sesekali berenang di permukaan air.

        Lalu apa yang membuat danau ini memiliki beberapa warna yang berbeda? Ternyata danau ini terbagi menjadi dua sisi. Salah satu sisi memiliki kandungan belerang yang tinggi, sementara sisi yang lain tidak. Kandungan belerang ini, ditambah dengan efek cahaya matahari mampu membuat danau seolah-olah memiliki warna yang berbeda. Sejak tahun 2006 pihak swasta membangun taman di pinggir danau — dengan tiket masuk Rp 25.000 per orang. Harga tersebut sudah termasuk kopi dan kue kelapa yang disediakan pengelola. Taman pinggir danau sebagian besar terdiri dari rumput yang terawat rapi, tempat duduk-duduk, serta kafe. Sebuah jalan setapak dibangun di pinggiran bagi pengunjung yang ingin berjalan-jalan, maupun untuk mereka yang ingin berolahraga lari.

        Para pengunjung biasanya duduk-duduk di pinggir danau sambil menikmati pemandangan Linow yang hijau kebiruan. Di sisi lain terlihat warna biru keputihan. Dari sisi lain warna danau terlihat berbeda, tergantung sudut pandang pemirsa. Satwa lain yang juga menarik perhatian adalah serangga yang oleh masyarakat setempat disebut sayok atau komo. Serangga bersayap yang hidup di air ini juga sering ditangkap untuk dikonsumsi. Di sekeliling danau ditumbuhi pohon cemara jarum dan bunga sepatu beraneka warna. Ada juga berbagai bunga lain yang saya tidak tahu namanya. Satu peringatan, di pinggir danau sering ada gundukan lumpur panas, Anda sebaiknya menjauh. Selain itu, terkadang bau belerang juga tajam. Bila ada angin cukup kencang bau ini tercium dari kejauhan. Di sisi kanan danau terdapat sebuah bangunan rusak yang tampaknya dimaksudkan sebagai Pusat Informasi Geotermal dan Geowisata Tomohon. Sebenarnya pembangunan kantor semacam itu adalah inisiatif yang bagus, sayangnya bangunan belum selesai dibangun, dan entah kenapa dibiarkan begitu saja.

        Danau Linow ini berada di Desa Lahendong, Tomohon. Bila ingin berkunjung ke danau ini paling ideal adalah menyewa mobil karena dapat mengunjungi beberapa objek wisata sekaligus. Bila ingin hemat, Anda dapat naik angkutan umum dari Terminal Tomohon, namun harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 700 meter. Dari kota Manado hanya butuh waktu sekitar 45 menit untuk mencapai danau. Di wilayah tersebut Anda juga beberapa lokasi menarik yang dapat disinggahi. Salah satunya adalah Woloan, di mana Anda dapat melihat pembuatan rumah panggung khas Minahasa. Selain itu ada pula Desa Pulutan, sentra industri gerabah.

        sumber: Yahoo travel
        foto utama: travelanddiving

        Kaledo Loli, Kota Palu-Sulawesi Tengah

        A. Selayan Pandang

        Jangan mengaku pernah menginjakkan kaki di Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu, jika Anda belum mencicipi kaledo. Masakan khas Sulawesi Tengah ini termasuk jenis masakan berkuah bening agak kekuning-kuningan dengan rasa yang sangat khas, yakni asem gurih dan pedas. Pada awalnya, masakan ini hanya berbahan baku tulang kaki sapi dengan sedikit dagingnya. Namun, karena penjual kaledo semakin banyak, sehingga tulang kaki sapi semakin sulit didapatkan. Untuk menggantikan tulang kaki tersebut, maka tulang belakang sapi pun disertakan sebagai tambahan bahan utama.  
        Tidak ada catatan resmi mengenai asal-usul makanan ini. Menurut cerita, konon di wilayah Sulawesi Tengah, ada seorang dermawan yang memotong sapi dan membagi-membagikannya kepada penduduk sekitar. Orang Jawa yang pertama datang mendapat daging sapi yang empuk dan kemudian dibuat bakso. Orang Makassar yang datang berikutnya mendapat bagian jeroan (isi perut), kemudian dimasak coto Makassar. Sementara orang Kaili (suku asli Donggala) yang datang belakangan hanya memperoleh tulang-tulang kaki. Oleh karena tidak ingin mengecewakan keluarganya yang menunggu di rumah, maka tulang-tulang dengan sedikit daging yang masih menempel pun dibawanya pulang ke rumah sebagai obat kecewa. Tulang-tulang tersebut kemudian mereka masak dan jadilah kaledo.   
        Kaledo banyak dihidangkan oleh masyarakat Sulawesi Tengah pada saat hari lebaran (Idul Fitri maupun Idul Adha) yang disajikan dengan burasa (beras diberi air santan dan dibungkus daun pisang, lalu direbus). Selain itu, makanan khas ini juga sangat cocok disantap bersama nasih putih, singkong atau jagung rebus. Bagi yang mengidap tekanan darah tinggi dan asam urat, sebaiknya lebih berhati-hati. Jangan sampai makan kaledo melebihi porsi yang semestinya. 

        B. Keistimewaan

        Kekhasan kaledo ini terletak pada penggunaan bumbu asam Jawa. Asam Jawa yang digunakan adalah asam yang betul-betul masih muda. Untuk memperoleh konsentrat asam, kulit asam muda digerus bersama dagingnya. Jika menggunakan asam yang sudah tua, kuah kaledo tersebut akan berwarna kuning dan rasanya cenderung lebih manis.
        Selain itu, masakan kaledo ini menjadi khas, karena bumbu pelengkapnya, seperti: bawang goreng khas Palu (renyah, tidak mudah lembek, dan tahan lama), sambal, dan jeruk nipis. Bagi mereka yang suka pedas, dapat menambahkan sambal yang sudah ditumbuk kasar. Sedangkan bagi yang suka kecut, dapat menambahkan perasan jeruk nipis.
        Sebenarnya, yang menarik dari makanan ini, yaitu pada cara makannya. Daging yang menempel di tulang dan sumsum yang terdapat di dalam rongga tulang tersebut sangat lezat untuk dinikmati. Oleh karena itu, Anda jangan terkejut dan heran ketika melihat cara penyajian masakan yang satu ini. Biasanya disediakan garpu, pisau, sumpit ataupun pipet, yang berfungsi untuk mengeluarkan sumsum dari rongga-rongga tulang sapi tersebut.

        C. Lokasi

        Makanan khas Palu ini merupakan menu utama warung-warung makan di Sulawesi Tengah. Ada beberapa warung makan yang khusus menyajikan makanan ini, seperti warung makan yang berlokasi di ruas Jalan Diponegoro, Kota Palu; di depan pintu masuk Wisata Pantai Tumbelaka (3 km dari Kota Palu); dan di depan Masjid Baabus Salaam, Loliege, Jl. Raya Palu - Donggala (3 km dari Kota Palu). Selain di Kota Palu dan Donggala, makanan ini juga dapat dinikmati di warung-warung makan di Kabupaten Poso. Untuk menjangaku warung-warung tersebut, para wisatawan dapat menumpang angkutan kota berupa bus kota, taksi dan ojek.

        D. Harga

        Harga kaledo berkisar antara Rp. 30.000,00 - Rp. 35.000,00 perporsi. (2011).
        (Samsuni/wm/34/03-08)
        foto: detik foto

        Wisata Sejarah PD II & Konservasi Mangrove di Tarakan

        Tarakan adalah salah satu kota yang terletak di Kalimantan Timur. Kota ini menjadi salah satu lokasi Perang Dunia II. Hingga kini, masih banyak tersebar benda-benda saksi bisu peristiwa tersebut. Kalimantan Timur, selain memiliki keindahan alam dan budaya, juga menyimpan potensi wisata sejarah. Potensi wisata sejarah ini dikarenakan dahulu, daerah ini menjadi salah satu saksi bisu Perang Dunia II. Berbagai peninggalan sejarah masih berdiri kokoh dan terpelihara di tempat ini. “Wisata sejarah juga dapat dilakukan di Tarakan karena di sini dulu menjadi tempat Perang Dunia II,” ujar Ubadin, Marketing and Cooperation Staff Disbudpar Kalimantan Timur, kepada Okezone pada acara “Kemilau Nusantara 2012” di Bandung, Jawa Barat, baru-baru ini. “Seperti dapat kita lihat di sini, ada canon, rumah bundar,” imbuhnya. Jembatan besi, bunker, meriam, monumen Australia, dan perabuan Jepang menjadi beberapa peninggalan sejarah yang dapat ditemukan di kota ini. Terdapat sekira 10 bunker yang ada di Kota Tarakan. Bangunan ini disinyalir dibangun pada kurun 1936 hingga 1939, dan digunakan sebagai tempat pertahanan sekutu Jepang. Meriam yang dapat ditemukan di kota ini merupakan peninggalan dari Raja Tarakan, AP Jamalul Kirana. Selain itu, terdapat pula meriam yang berasal dari peninggalan Perang Dunia II, yang dapat ditemukan di Juwata dan Peningki Lama Karungan. Berkeliling di Kota Tarakan, lengkapilah perjalanan Anda dengan mengunjungi pusat konservasi mangrove di pusat Kota Tarakan. Luas pusat konservasi ini mencapai 8,8 hektare, sekaligus menjadi tempat perkembangbiakan hewan bekantan. “Di pusat Kota Tarakan juga sedang dikembangkan lahan konservasi mangrove. Letaknya di pusat kota,” pungkasnya.

        foto: kupu2senja

        Pantai Natsepa, Kabupaten Maluku Tengah - Maluku

        A. Selayang Pandang
        Pantai landai dan lebar  ini dikenal sejak abad ketujuh belas, digunakan sebagai tempat berlibur para  penjajah Belanda. Saat ini di setiap akhir pekan, Pantai Natsepa selalu ramai  pengunjung, khususnya warga kota Ambon. Tujuan mereka ke Natsepa antara lain untuk berenang,  naik perahu yang bisa disewa per-jam, atau sekadar melepas lelah dengan  menikmati pemandangan alamnya. Ada  juga yang datang untuk sekadar menikmati segarnya kelapa muda, makan pisang goreng,  jagung rebus, wajik atau rujak khas Pantai Natsepa.

        B. Keistimewaan

        Pada hari-hari tertentu pemandangan sekitar pantai yang landai ini sangatlah indah,  antara lain karena sekitar 12 meter dari bibir pantai Natsepa sering melintas kapal-kapal besar pengangkut kayu gelondongan dari Batu Gong, sebuah tempat  pengolahan tripleks di pulau yang tampak di seberang Pantai Natsepa. Para wisatawan juga dapat mandi di pantai yang berombak  rendah ini. Sehabis mandi, pengunjung bisa memborong ikan cakalang dan kepiting  bakau yang banyak dijual nelayan di sekitar lokasi pantai.


        C. Lokasi

        Pantai  Natsepa terletak di Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Pulau  Ambon. Pantai ini terletak sekitar 18 km dari pusat Kota Ambon.

        D. Akses Menuju  Lokasi

        Untuk menuju lokasi pantai dapat ditempuh dengan naik kendaraan umum dengan  harga sekali jalan Rp. 5000. Pantai ini terletak di samping jalan besar, dengan  waktu tempuh dari kota Ambon sekitar 30 menit, dengan jarak tempuh 24 km.

        E. Harga Tiket Masuk  Lokasi

        Tarif  masuk ke lokasi wisata ini, untuk orang dewasa sebesar Rp. 1.000,- kendaraan  roda dua Rp. 1.000,- dan kendaraan roda empat Rp. 2.000.

        F. Akomodasi dan  Fasilitas Lainnya

        Objek Wisata ini  menyediakan berbagai fasilitas yang dapat dinikmati oleh para pengunjung antara  lain beberapa shelter yang dapat digunakan sambil menikmati indahnya pantai dan  pemandangan di Teluk Baguala.
        Terdapat juga  penyewaan pelampung berupa ban dalam roda mobil dengan harga sekitar Rp 5.000  untuk yang berukuran kecil dan untuk yang berukuran besar (update 2012)

        (Hatib Abdul Kadir/wm)
        __________
        Sumber Foto: (Bee La Vista on Trip/16-19/09/2012)